Breaking News

Dua Musibah Melanda TNI, Ini Tanggapan DPR RI



JAKARTA - Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari, menyampaikan duka cita atas tenggelamnya  Kapal Motor Cepat (KMC) AD-16-15 milik Komando Daerah Militer (Kodam) Jaya di Kepulauan Seribu, yang terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, Senin 12 Maret 2018.

Olehnya itu, peristiwa tersebut harus dilakukan investigasi secara mendalam, sehingga diketahui faktor penyebabnya dengan pasti. “Saya harap ada investigasi mendalam kenapa terjadi. Apakah faktor alam atau apa, harapan saya tak terulang lagi," katanya.

Ia mengaku prihatin atas kejadian tersebut, sebab dalam beberapa pekan, sudah dua musibah yang dialami oleh pihak TNI, khususnya TNI Angkatan Darat (AD) yakni kejadian satu unit tank M113 milik TNI AD yang tenggelam di Sungai Bogowonto, Purworejo.

Hal senada, Anggota Komisi I DPR RI Partai Golkar, Dave Laksono juga meminta penyelidikan dilakukan. Sehingga ada reformasi informasi di TNI.

Menurutnya, untuk menekan kecelakaan mesin tempur militer, Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI harus diremajakan. Namun Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) masih belum bisa menutupi kebutuhan tersebut.

"Memang sudah kebutuhan utama untuk meremajakan alutsista kita," ujarnya.

Pengamat militer, Arista Atmadjati mengatakan, penyebabnya harus diinvestigasi mendalam dan hasilnya disampaikan ke publik.

Ia juga mengkritik penggunaan alat tempur tersebut yang tidak lazim digunakan oleh anak usia dini.

"Ini enggak lazim kok digunakan untuk mengangkut anak PAUD. Secara yang pasti saya belum pernah dengar boleh dipergunakan untuk seperti itu, kalau pun naik hanya boleh di pabriknya saja atau pameran khusus. Sedangkan ini lokasinya berada di luar teritorial mereka," katanya.

Sementara tenggelamnya KMC Komando di perairan Kepulauan Seribu, ia juga mempertanyakan latar belakang perawatan dan usia kapal tersebut. Sehingga meminta pemerintah memprioritaskan perawatan Alutsista TNI.

Baginya, di Indonesia sudah banyak Alutsista yang lama dan harus diperbaiki.

"Perhatian pemerintah masih jauh dari ideal karena anggaran pertahanan belum menjadi prioritas. Tapi dengan banyaknya kecelakaan yang terjadi harusnya enggak boleh seperti itu," ujar Atmadjati.[®]

Tidak ada komentar