Breaking News

Jokowi Pertimbangkan Ubah Status Abu Bakar Ba'asyir Jadi Tahanan Rumah


JAKARTA - Presiden Joko Widodo  mengisyaratkan akan mengubah status Abu Bakar Ba'asyir dari narapidana Lapas Gunung Sindur menjadi tahanan rumah. Rencana perubahan status Abu Bakar Ba'asyir dari napi Lapas Gunung Sindur menjadi tahanan rumah tersebut, mendapat tanggapan positif dari Guntur Fattahillah, pengacara Abu Bakar Ba'asyir. Namun, tegas Guntur Fattahillah, Ba'asyir menolak jika dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan Solo.

Seperti diketahui, Abu Bakar Ba'asyir divonis 15 tahun penjara sejak 2011 karena dinyatakan bersalah melakukan tindakan terorisme. Sementara ini, Ba'asyir telah menjalani hukuman hampir 7 tahun di penjara. Awalnya, Ba'asyir dihukum di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Jawa Tengah. Namun karena kondisi kesehatannya menurun, Ba'asyir dipindahkan ke Rumah Tahanan Gunung Sindur, Bogor.

Pada Agustus 2017, kondisi kesehatan Ba'asyir memburuk lagi hingga kakinya bengkak. Setelah mengajukan permohonan rujukan dan  berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Ba'asyir menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita Jakarta pada Kamis 10 Agustus 2017. Dokter menyimpulkan terjadi gangguan katup pembuluh darah yang mengakibatkan pembengkakan.

Belakangan, kesehatan Ba'asyir kembali mengalami gangguan. Karena itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ma'ruf Amin mengajukan permohonan kepada  Presiden Joko Widodo agar terpidana terorisme Abu Bakar Ba'asyir dipindahkan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk mendapatkan perawatan. Selain itu, Ma'ruf juga meminta Presiden Jokowi mengampuni Ba'asyir dengan memberikannya grasi. Permohonan pemindahan Abu Bakar Ba'asyir ke  Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tersebut, akhirnya mendapat persetujuan dari Presiden Jokowi.

Terkait adanya gangguan kesehatan Abu Bakar Baasyir tersebut, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, telah bersilaturahim dengan putra Abu Bakar Ba'asyir, Abdul Rochim Ba'asyir, pada Selasa (27/2/2018). Dalam silaturahmi itu, pihak keluarga menginginkan agar status Ba'asyir sebagai napi Lapas Gunung Sindur menjadi tahanan rumah. Dalam pertemuan itu, keluarga Abu Bakar Ba'asyir berusaha meyakinkan Pemerintah Indonesia bahwa Ba'asyir tidak akan lagi terlibat di dalam kegiatan terorisme.

Usai bertemu dengan keluarga Abu Bakar Ba'asyir,  Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, melaporkan hasilnya kepada Presiden Jokowi. Apa hasilnya? Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, Presiden Joko Widodo berencana ingin mengubah status Abu Bakar Ba'asyir dari tahanan di Lapas Gunung Sindur menjadi tahanan rumah.  "Memang ini idenya beliau (Presiden). Beliau, kan, alasannya kemanusiaan ya memperhatikan Bapak (Ba'asyir) yang sudah tua," ujar Ryamizard usai menghadap Presiden di Istana Presiden Jakarta, Kamis (1/3/2018).

Presiden Jokowi, lanjut Ryamizard, mengusulkan agar Ba'asyir dipindahkan di rumahnya di Sukoharjo, Jawa Tengah. Presiden ingin Ba'asyir dirawat oleh keluarga sendiri dan tidak jauh-jauh dari keluarganya. "Ba'asyir, kan, sudah tua, sakit-sakitan. Kakinya bengkak-bengkak. Kalau ada apa-apa di tahanan kan apa kata dunia," ujar Ryamizard.

Meski demikian, Ryamizard belum dapat memastikan kapan pemindahan Ba'asyir dilakukan. Ia menyerahkan mekanisme pemindahan kepada Kementerian Hukum dan HAM serta aparat kepolisian. "Itu sudah bukan urusan saya lagi. Saya penyambung saja. Yang lain urusannya polisi dan Kemenkumham," ujar Ryamizard.

Peneliti terorisme the Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menyebut, kunjungan Menteri Ryamizard ke keluarga Ba'asyir adalah sesuatu yang positif bagi pemerintahan Joko Widodo.  "Dengan menimbang banyak hal, jika Presiden Jokowi dapat bermurah hati sebagai pemimpin kemudian mau mengabulkan permohonan keluarga Ustaz Ba'asyir, tentu akan sangat positif bagi citra beliau sebagai Presiden," ujar Harits, Rabu (28/2/2018).[berbagai sumber]

Tidak ada komentar