Breaking News

Tips Deteksi Hoax dari Kepala Badan Siber

Maraknya berita hoax di dunia maya kini kerap jadi sorotan berbagai pihak. Salah satunya dipaparkan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi dalam Talk Show bertema 'Melawan Hoax Dengan Cinta' di Paradigma Kafe, Cikini, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Menurut Djoko Setiadi, berita hoax dapat membahayakan keutuhan bangsa.Celakanya, di antara pembaca banyak juga yang percaya dengan informasi hoax tersebut. Karena itu, masyarakat harus banyak belajar membedakan mana berita hoax dan mana yang bukan hoax.

Bagaimana cara membedakan mana berita hoax dan mana yang bukan hoax? Berikut tips yang dibagikan oleh Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi.




1. Cek Kejanggalan: Masyarakat harus mengecek apakah dalam berita yang mereka baca ditemukan suatu kejanggalan. "Biasanya (berita hoax) menggunakan bahasa provokatif, memanfaatkan isu-isu yang sedang tren (isu SARA, pemerintah dan lainnya)," kata Djoko.

2. Kesesuaian Judul dan Isi: Harus dicek kesesuaian antara judul dan isi beritanya. Jadi diharapkan, masyarakat tidak hanya membaca sebatas judul, lalu langsung menyimpulkan isinya. "Karena pembuat berita hoax kadang bikin judul berita provokatif dan fenomenal tapi isi suka bertolak belakang," ujar Djoko.

3. Pastikan Sumber Berita: Masyarakat harus benar-benar memastikan sumber berita yang dibaca. Djoko menyebutkan, jika sumber berita telah terverifikasi oleh Dewan Pers, maka dapat lebih dipercaya. "Jika sumber berita dari media online yang belum terverifikasi Dewan Pers, kemungkinan besar (dapat) berisi hoax," ucap Djoko.

4. Lihat Tanggal Terbit: Masyarakat harus mengecek kapan tanggal berita diterbitkan untuk memastikan berita itu valid atau hoax. "Berita hoax tidak memiliki tanggal yang bisa diverifikasi tanggalnya," kata Djoko.

5. Cek Data Pendukung : Cek ketersediaan data pendukung di berita tersebut. Misalkan, berita itu menuding seseorang, cek data pendukung tudingan itu.

6. Kredibilitas Penulis: Masyarakat harus juga menelusuri kredibilitas sang penulis artikel, seperti mengecek bagaimana riwayat penulis dari berita tersebut. 

7. Arah Keberpihakan Penulis/Media: Masyarakat harus melihat bagaimana arah keberpihakan penulis/media tersebut. Apakah pemberitaannya berat sebelah ke salah satu kubu atau tidak?

8. Klarifikasi Ulang: Djoko mengatakan, masyarakat harus melakukan klarifiskasi isi berita kepada pihak terkait berdasarkan berita yang ditampilkan. "Bisa langsung atau via medsos," kata Djoko.

Djoko menambahkan, jika berita hoax berisi citra negatif dari tokoh-tokoh bangsa, maka, kita harus melawannya dengan menampilkan citra yang positif terhadap tokoh yang terkena hoax itu. "Misalnya ada tokoh negara kita atau negarawan dijelek-jelekkan, lah ini kita kontra opinikan. Coba disebutkan hal yang positifnya. Itu cara menanggulangi hoax," tandas Djoko.[red]

Tidak ada komentar