Breaking News

Pengamat Ini Sebut Ada Lima Ancaman yang Kini Dihadapi Indonesia


JAKARTA - Salah seorang pengamat kebijakan publik, Jeanne Noveline Tedja, memaparkan hal menarik saat tampil menjadi nara sumber pada kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) yang digelar Pusat Teritorial TNI Angkatan Darat (Pusterad) di AulaGajah Mada Markas Pusterad, Jakarta Timur, Selasa 17 April 2018. Jeanne Noveline Tedja mengatakan, sedikitnya ada lima ancaman yang kini dihadapi Indonesia.

Kelima ancaman itu, antara lain berupa masalah narkoba, pornografi, LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender), berita bohong (hoax), dan memudarnya pemahaman pancasila. “Saat ini yang menjadi salah satu ancaman disintegritas bangsa adalah ancaman terhadap aspek demografis (sumber daya manusia),” jelas Anne, sapaan akrab Jeanne Noveline Tedja.

Menurut Anne, manusia merupakan aset terbesar sebuah bangsa. Sehingga perlu dibangun sebelum membentuk yang lainnya. Jika hal itu tidak dilakukan maka ada beberapa yang bakal menjadi Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG).

Narkoba misalnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan hingga kini masyarakat yang masuk dalam fase ketergantungan mencapai 6 juta jiwa, dalam artian tertinggi di Asia. “Sekitar 27,32 persen berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa,” kata Anne.

Selanjutnya, pornografi yang rentan menyerang anak-anak pada generasi Z (lahir 1995 hingga 2012). Dimana dengan usia tersebut sudah menggenal internet. Sehingga sulit untuk membendung pengaruh konten-konten diwebsite tertentu. “Antara tahun 2010 hingga 2014, ada 80 juta anak yang telah mengakses pornografi online,” ujarnya.

Tidak kalah penting lagi, lanjut Anne, mudahnya masyarakat Indonesia menerima berita bohong (hoax) yang diterima lewat media sosial, tanpa melakukan cek dan ricek tehadap isi konten tersebut. Hal itu disebabkan, karena kurangnya minat baca. “Meski minat baca rendah. Penduduk Indonesia berada di urutan ke-5 sebagai negara paling cerewet di dunia,” imbuhnya.

Sehingga pemahaman terhadap pancasila sebagai ideologi Negara ikut memudar. Bahkan hal itu dikarenakan juga, tidak adanya doktrin kebinekaan yang dilakukan oleh pemerintah seperti saat orde baru berkuasa.“Dulu ada BP7 dan Penataran P4-nya. Sekarang pendidikan kewarganegaran saja sudah berkurang,” tegasnya.@

Reporter: Irfan Mualim

Tidak ada komentar