Breaking News

Potret Desa Ponggok: Daerah Tertinggal yang Mampu "Berontak" dan Bangkit Sejahtera

Desa Ponggok merupakan salah satu desa di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, yang kini mengalami pertumbuhan pesat setelah dikembangkan menjadi desa wisata air. Pada tahun 2004, Desa Ponggok masih termasuk daerah tertinggal, tapi kini mampu tumbuh menjadi daerah lebih makmur setelah potensi air yang milikinya diolah sebagai sumber daya ekonomi produktif.

Di Desa Ponggok terdapat beberapa umbul seperti Umbul Besuki, Umbul Sigedang, Umbul Ponggok, Umbul Kapilaler, serta Umbul Cokro. Pada setiap umbul ini dapat dijumpai pemandangan alam yang indah serta air yang jernih, didukung dengan suasana pedesaan yang asri maka sangat sesuai jika desa ini dikembangkan menjadi sebuah desa wisata.

Selain dikembangkan untuk daerah wisata, sumber air yang melimpah dimanfaatkan oleh warga Desa Ponggok untuk membudidayakan ikan, terutama ikan nila. Desa Ponggok memiliki lahan potensial seluas 8.0 ha dan lahan yang digunakan untuk usaha di sektor perikanan seluas 5 ha dengan penghasilan produksi 0.57 ton perhari. Selain budidaya ikan Nila di Desa Ponggok juga terdapat budidaya udang galah, dimana budidaya ini dapat menghasilkan 1 kwintal perbulan. Selain udang galah dan nila, warga desa juga mulai mengembangkan budidaya ikan koi sebagai alternatif untuk mendapatkan penghasilan.

Potensi Desa Ponggok lainnya adalah adanya perhatian yang besar terhadap perkembangan Desa Ponggok baik dari warga masyarakat Desa Ponggok maupun aparat Desa Ponggok. Selain itu Desa Ponggok memilik banyak lembaga desa (institusi lokal) yang mendukung perkembangan dan pembangunan pariwisata di Desa Ponggok seperti BUMDES, Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani), Pokdakan, Unit Pengelola Lingkungan (UPL), dan Unit Pengelola Sosial (UPS).

 
Komisi XI DPR RI sudah melakukan peninjauan ke Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Hasilnya, Pemerintah Desa Ponggok diakui memiliki catatan terbaik dalam manajemen pengelolaan dana desa dengan berbagai unit usaha yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Tirta Mandiri. Dalam setahun pendapatan desa tersebut mencapai milyaran rupiah. Sebagai desa mandiri yang baru mulai menggeliat sejak 2009, peningkatan pendapatan Ponggok dalam kurun tiga tahun melesat hingga 50 kali lipat (dari Rp 211 juta pada 2013 menjadi Rp 10,3 miliar pada 2016).

Wakil Ketua Komisi XI DPRRI M. Parakosa mengatakan, salah satu kunci sukses penggunaan dana desa adalah kesiapan SDM yang berkualitas sehingga program yang dihasilkan lebih baik dan menyasar untuk kesejahteraan masyarakat.

Sementara Kepala Desa Ponggok Junaedi Mulyono, mengatakan dana desa sangat membantu dalam percepatan pembangunan desa. Dengan adanya dana desa hampir semua desa bisa maju dan mandiri dengan mengerakkan potensi yang dimiliki di daerah masing-masing. Hal ini sejalan dengan komitmen Nawacita Jokowi yakni membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat pembangunan daerah dan desa dalam kerangka NKRI. Jika dulu Desa Ponggok termasuk dalam desa miskin dan tertinggal, kini mampu tampil mandiri. berkat sumber air yang berlimpah yang dimanfaatkan untuk mendongkrak pendapatan desa.

Tidak ada komentar