Breaking News

Saatnya Generasi Muda Jadi Bagian Pembuat Kebijakan Bersama Pemerintah


JAKARTA - Generasi muda atau anak-anak muda Indonesia seharusnya bisa menjadi bagian dalam kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.  Karena anak-anak muda memiliki modal semangat,  intelektual dan jaringan.

Demikian pernyataan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Irfan Surya dalam diskusi publik dengan tema Peran Strategis Kaum Muda dalam Pilpres 2019 yang digerlar kibarkini.com di yang berlangsung di The Atjeh Connection Sarinah, Jl Thamrin Jakarta, pada Sabtu, 28 April 2018.

"Ada tiga hal yang selalu disuarakan oleh para pemuda.  Pertama,  fase dari Orde Lama,  Orde Baru dan Reformasi membuat para pemuda selalu tidak puas dengan kondisi yang tercipta, akumulasi dari semua itu terutama adanya ketidakadilan," kata Irfan.

Kedua, adanya ketidakpuasan terhadap rezim. Menurutnya, semua rezim pasti ada yang mendukung pemerintah dan tidak dengan menjadi oposisi.  Ketiga,  terjadinya kesenjangan sosial yang menjadi penyakit akut bangsa ini.

"Oleh karena itu,  sudah saatnya kaum muda memimpin,  yang muncul jangan lagi orang lama yang tidak pro dan menyebabkan kesenjangan sosial. Dengan keseriusan yang kita miliki, kita dorong kaum muda untuk pimpin bangsa ini," kata Irfan.

Sementara itu, menurut Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Agus M.  Herlambang, partisipasi anak muda bukan dilihat saat pemilu tetapi sebelum dan setelahnya.  Karena selama ini anak muda selalu diajak bicara soal pemilu tapi setelah itu dicuekin.

"Anak muda yang bicara soal politik hanya 2,3 persen, ini diperburuk dengan sistem kaderisasi parpol yang tidak membuka ruang untuk anak muda.  Untung di 2014 ada skema relawan,  nah di 2019 akan ada skema apa lagi," kata Agus.

Menurut Agus,  munculnya fenomena golongan putih atau golput dari tahun 1970 sampai 1980 an karena respon muaknya generasi muda terhadap situasi politik. Menurutnya,  anak muda seharusnya tidak hanya dijadikan relawan tapi juga harus menjadi pemain politik.

"Inilah yang kemudian membuat anak-anak muda antipati terhadap politik. Kita hanya dijadikan objek bukan subjek dari pesta demokrasi ini," kata Agus.

Ketua Umum PB.  HMI Respiratori Saddam Al Jihad mengatakan,  pesta demokrasi seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang sejuk.  Menurutnya,  era teknologi informasi yang membuat kaum milenial sering menggunakan media sosial harus dimanfaatkan dengan baik.

"Kita harus angkat politik itu enjoy,  santai dan hanya permainan.  Kalau muncul politik itu sejuk,  maka jangan sampai seperti tahun 2009 dimana ada nuansa golput. Apakah 2019 balik lagi ke golput, maka itu tergantung pendekatannya," kata Saddam.

"Yang akan dilakukan PB. HMI yaitu melakukan politik-politik yang sejuk.  Kita dekati pengguna medsos sehingga akan hadir negarawan muda yang akan aktif berpolitik," tambah Saddam.

Diskusi publik ini diselenggarakan oleh kibarkini.com yang merupakan media berita yang mengedepankan pendekatan politainment. Ketua Umum Kibar,  Indra Fahrizal mengatakan mengapresiasi semua aspirasi yang disampaikan oleh para pemuda.  Menurutnya,  aspirasi tersebut sangat dibutuhkan khususnya menjelang Pemilu 2019 mendatang.

"Pemikiran mahasiswa ini luar biasa.  Di tahun 2019 ini jumlah pemilih dari kalangan anak muda sangat potensial.  Mereka juga yang nantinya akan melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa, " kata Indra.@

Tidak ada komentar