Breaking News

Syaiton Pun Takjub Terhadap Amien Rais



Alkisah, saking jengkelnya melihat kelakuan manusia, akhirnya Syaiton bermaksud menghadap Tuhan untuk mengajukan pensiun dini. Alasan yang digunakan sangat valid, karena belakangan ini dirinya sudah kalah kreatif dalam berbuat kejahatan, alias kewalahan menghadapi ulah manusia yang diluar batas kesyaitonan, dan khawatir dirinya ketularan kelakuan manusia.

Dalam proposalnya, Syaiton kembali mengingatkan dialog antara Tuhan dengan dirinya dan juga Malaikat, yaitu ketika Tuhan hendak menjadikan Adam dari golongan manusia yang bunuh-bunuhan dan bikin kerusakan, untuk menjadi khalifah di muka bumi, sebagaimana tertulis dalam Al-qur’an.

Syaiton Sebagai Keseimbangan
Salah satu yang membikin Syaiton tersinggung, karena namanya dicatut untuk melabeli Partai Pendukung Jokowi, sebagaimana diungkapkan Amien Rais (AR), untuk membedakan dengan Partai yang mengusung nama Allah sebagai dagangannya.

Kok ada ya sekelompok orang yang ngeyel tak berkesudahan, gagal jualan issue PKI, SARA, Tenaga Kerja Cina, ASING-ASENG dan KAOS, kini bisa-bisanya mencatut namanya, gumam Syeiton muda. Apalagi dirinya disandingkan dengan Tuhan YMK yang menjadi junjungannya. Padahal dirinya saja, tidak akan pernah berani melakukan hal itu, kok AR berani amat, atau nekad yaa, gerutu Syaiton tua.

Kita harus tunduk patuh kepada Allah SWT untuk menjalankan perintah-Nya, menggoda manusia sebagai mekanisme “cek and balance” atau “yin dan yang” dalam kehidupan. Jangan ada yang ragu-ragu, tugas ini adalah tugas langsung dari Tuhan, begitu wejangan Eyang Syaiton kepada cucu-cucunya.

Presiden Jokowi Sebagai Sumber Kejengkelan Syaiton
Sejujurnya, kejengkelan Syaiton bermula dari kelakuan Presiden Jokowi yang bikin bingung kaumnya. Bagaimana tidak, gara-gara Presiden Jokowi juga, anak cucunya banyak yang “jobless”, karena banyak praktek mafia dan kong kalikong masa lalu terhenti. Apalagi program infra struktur kini banyak

yang stagnan, sebab sekonyong-konyong dihentikan oleh Presiden Jokowi sendiri, akibat aparatnya yang notabene “didikan” mafia peninggalan masa lalu, masih coba-coba korupsi. Lebih repot lagi kasus mega korupsi seperti BLBI, Century, E-KTP dan belakangan di Pertamina dibongkar. Semua tokoh yang terlibat adalah karib dekatnya.

Akhirnya, birokrasi binaan mafia yang dari dulu menjadi mitra Syaiton, kini sedang “wait and see”, menunggu apakah Jokowi dalam Pemilu 2019 bakal menang lagi atau tidak. Kalau mereka nurut kepada Presiden Jokowi, berarti tidak nurut sama boss mafia yang memeliharanya sejak mereka muda.

Syaiton juga tersinggung, karena sebagian aparat birokrasi yang ada, merasa bahwa Presiden Jokowi “tidak berdaya”, karena dikepung oleh lingkaran kekuasaan yang jauh lebih dahsyat dalam mensiasati aturan main, jual-beli perkara dan kriminalisasi, yang juga kepanjangan tangan mafia.

Dan satu-satunya yang tidak habis dipikir oleh Syaeton, mengapa sudah 3,5 tahun masa pemerintahan Presiden Jokowi, kok untuk reformasi hukum dan birokrasi belum ada tanda-tanda perbaikan, moral aparatur birokrasi yang bobrok belum berubah, bahkan sebaliknya untuk sejumlah kasus, justru lebih buruk akibat kenekadan para aparatnya.

Jangan Jualan Agama
Syaiton menjadi kaget dan termangu-mangu ketika mendengar statemen AR yang berani-beraninya menggunakan nama yang diagungkan oleh makhluk alam semesta, yaitu Allah, Tuhan Yang Masa Esa, sebagai sebutan bagi partai-partai yang menjual agama, sebagai barang dagangannya.

Padahal sejahat-jahatnya Syaiton, tidak akan pernah berani menyamakan dirinya dengan Tuhannya. Dan bagaimana kelak kalau atas ijin Allah SWT, dalam Pemilu 2019 yang menang justru Capresnya Partai Syaiton. Bukankah itu bakal menjatuhkan nama Allah, Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Agung. Nekad betul AR, komentar Syaiton.

Lanjutkan Mas AR dengan rumus-rumus “persyaitonan” yang sesat. Memang untuk jaman NOW dalam berpolitik rasanya gak pantes jualan agama, tapi apalah arti sebuah nama karena yang penting hasilnya bisa membawa NKRI menjadi jaya untuk rakyat.[*]



Tidak ada komentar