Breaking News

Wiranto: Indonesia Bubar Itu Nggak akan Pernah Ada


JAKARTA - Menko Polhukam Jenderal (Purn) Dr. H. Wiranto, menegaskan, jika melihat data-data sejumlah lembaga riset dunia, Indonesia bubar itu tak akan pernah ada. Hal itu dipaparkan Wiranto saat menghadiri acara penutupan Seminar Nasional bertema "Keamanan dan Keselamatan Laut dalam Mewujudkan Poros Maritim Dunia" yang digelar Koalisi Bersama Rakyat (KIBAR) di Hotel Borobudur Jakarta, 5 April 2018.

Dalam kesempatan itu, Wiranto memaparkan data-data hasil survei sejumlah lembaga internasional.  Data dari Fragile State Index 2017 misalnya, Indonesia berada di posisi 94 dari 178 negara jika dilihat kondisi umum seperti stabilitasnya, persatuan,  ekonomi,  politik dan sosial.

Kemudian,  survey price waterhouse cooper (PWC)  menyatakan Indonesia akan berada di peringkat ke lima di tahun 2030 dengan estimasi nilai produk domestik bruto US$ 5.424 miliar. Sedangkan laporan National Intelligence Council mengenai prospek global 2020 menyatakan dominasi ekonomi dunia akan bergeser ke Asia, dimana Indonesia termasuk negara yang memainkan peran penting di bidang ekonomi.

Dari sisi kepercayaan publik terhadap pemerintah, lanjut Wiranto, Indonesia menempati urutan pertama dunia. Sedang dari sisi kemudahan berinvestasi, Indonesia menempati urutan kedua. Menurut Wiranto, data-data lembaga internasional yang menunjukan perkembangan positif di Indonesia tersebut, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan faktual. "Jadi Indonesia bubar itu nggak akan pernah ada sebenarnya," tegas Wiranto.

Karena itu, Wiranto mengajak para peserta seminar agar lebih percaya diri karena Indonesia sesungguhnya banyak memiliki kelebihan. Dicontohkan, saat Presiden Joko Widodo bertemu pemimpin Afganistan, Indonesia mendapat pujian karena dinilai mampu menjaga pesatuan dan kesatauan negara. "Di Afganistan hanya ada tujuh suku, tapi mereka konflik terus sejak dulu sampai sekarang. Padahal, Indonesia punya 700 suku lebih, tapi tetap bisa rukun."


Sebelumnya, pada acara yang sama, Setiawan Djodi, seniman dan pengusaha, juga memaparkan pendapat serupa. Bahkan, Setiawan Djodi, sempat menyindir adanya politisi Indonesia yang menggunakan novel Ghost Fleet untuk mengalisa politik hingga memprediksi Indonesia akan bubar. Namun, Djodi mengajak masyarakat Indonesia agar tak memikirkan analisis politik berdasar novel fiksi Ghost Fleet. Sebaliknya Djodi mengajak para peserta seminar untuk terus bersemangat mengibarkan bendera Indonesia berdasar analisa data. Apalagi, Indonesia punya banyak potensi, termasuk potensi laut.

Sekedar tahu, Setiawan Djodi merupakan salah satu pendiri KIBAR bersama Wiranto. Karena itu, pada kesempatan tersebut, Wiranto dan Setiawan Djodi juga memberikan semangat pada para aktivis KIBAR agar lebih produktif untuk mengibarkan Indonesia.

Selain menghadirkan Wiranto, seminar ini juga menampilkan sejumlah pembicara lain seperti Agus H. Purnomo (Dirjen Perhubungan Laut),  Ari Soedewo (Kepala BAKAMLA), dan Amarulla Octavian (Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan, Universitas Pertahanan). Pada acara tersebut para stakeholder kelautan peserta seminar  mendiskusikan berbagai hal terkait capaian dan tantangan yang dihadapi dalam kebijakan Poros Maritim Dunia, kelembagaan, partisipasi masyarakat pesisir yang menjadi Koalisi Bersama Rakyat (KIBAR) @


Tidak ada komentar