Breaking News

Anak Pelaku Bom Bunuh Diri Tolak Ikuti Upacara dan Mata Pelajaran PPKn


SURABAYA - Munculnya serangkaian aksi teror bom di Jawa Timur mendapat perhatian serius dari Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. Soalnya, dalam aksi bom bunuh diri tersebut terdapat anak-anak usia sekolah yang ikut serta. Terkait hal itu, Tri Rismaharini meminta lembaga pendidikan dasar dan menengah di Surabaya agar memperhatikan kondisi psikologis para pelajarnya.

Permintaan Tri Rismaharini tersebut dipaparkan setelah mendapati fakta adanya anak-anak usia sekolah yang terlibat dalam aksi teror bom bunuh diri di Surabaya. Terlebih, di antara anak pelaku bom bunuh diri ternyata ada yang menolak ikut upacara dan enggan mengikuti pelajaran pancasila/PPKn di sekolahnya.

"Salah satu anak pelaku bom bunuh diri pernah ditanya apa cita-citanya dan dia menjawab ingin mati sahid. Bahkan, anak tersebut tidak mau mengikuti pelajaran pancasila/PPKn dan ikut upacara. Katanya pun nilai mereka selama ini nol. Ini kan aneh," kata Wali Kota perempuan pertama di Kota Surabaya ini, Senin (14/5/2018).

"Ini kan mereka nggak ngerti kalau itu nggak wajar. Harusnya, kita dan guru mereka yang paham ini lah yang memberikan arahan. Kita harus peka akan hal-hal ini. Penting mendapatkan informasi awal untuk bisa mendeteksi lebih dalam," tambah Risma.

Tri Rismaharini mengaku tak bisa memahami kenapa pelaku bom bunuh diri di Surabaya tega mengajak anak-anaknya terlibat langsung dalam aksi teror tersebut. Sebagai orang tua, Tri Rismaharini sendiri mengaku pikirannya sering terbebani hingga pusing jika anaknya sendiri sakit.

 "Saya saja, kalau anak saya sakit itu kadang kepikirannya luar biasa sampai pusing. Padahal ini anak saya sudah berkeluarga sendiri. Lah ini kok anaknya masih kecil-kecil malah lebih tega mengajak anaknya untuk mati. Ini yang pikiran saya nggak sampai. Nggak paham saya," pungkas Risma.

Fenomena bom bunuh diri dengan melibatkan perempuan dan anak-anak yang terjadi di Surabaya, menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, merupakan aksi pertama kali yang terjadi di Indonesia. "Ini yang pertama kali berhasil di Indonesia," kata Jenderal Tito Karnavian.

Seperti diberitakan, dalam aksi bom bunuh diri di tiga tempat ibadah Surabaya pada 13 Mei 2018 terdapat perempuan dan anak-anak sebagai pelaku. Demikian pula dalam aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya pada 14 Mei 2018, juga terdapat perempuan dan anak-anak sebagai pelaku.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan pelaku serangan bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya adalah satu keluarga. Mereka mencoba menerobos pintu masuk Polrestabes yang dijaga petugas dengan dua sepeda motor. Satu keluarga itu merupakan bagian dari kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Surabaya. "Kelompok ini bagian yang sama dengan kelompok Dita Oepriarto," kata Tito saat jumpa pers di Gedung Tribrata Polda Jawa Timur, Senin, 14/05/2018.

Tito menjelaskan, pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya terdiri dari bapak-ibu dan tiga anak. Salah satu anak pelaku, perempuan berusia 8 tahun, selamat. Kondisinya luka-luka dan saat ini dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jawa Timur. Sang ayah berinisial TM, warga Krukah, Surabaya.

Tito memastikan pelaku yang berjumlah empat orang itu tewas di lokasi kejadian. Jenazah mereka sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jawa Timur. Proses identifikasi masih dilakukan untuk memastikan identitas pelaku.

Tidak ada komentar