Breaking News

Hendardi Minta Evaluasi Sistem Penjara Napiter: Teroris Termasuk High Risk


JAKARTA - Setara Institute ikut berduka cita atas terjadinya penyerangan narapidana teroris terhadap aparat kepolisian di Rumah Tahanan Mako Brimob Kelapa Dua Depok Jawa Barat yang menimbulkan korban jiwa. Terkait hal ini, Setara Institute meminta pemerintah untuk melakukan evaluasi sistem penjara untuk para narapidada tindak terorisme (Napiter).

"SETARA Institute menyampaikan duka atas gugurnya sejumlah anggota Polri dalam penanganan kerusuhan tersebut," kata Hendardi, Ketua SETARA Institute, dalam Komentar Pers, 9 Mei 2018.

Menurut Hendardi, peristiwa ini menunjukkan bahwa penanganan narapidana dan lembaga pemasyarakatan terorisme tidak bisa menggunakan standar biasa karena narapidana teroris masuk kategori high risk dan perlu penanganan khusus. Pemerintah harus memberikan dukungan penguatan Lapas untuk jenis-jenis kejahatan serius.

"Penyerangan napi terorisme menunjukkan bahwa kekuatan kelompok teror masih eksis dan efektif berjejaring dan terus menjadi ancaman bagi keamanan. Peristiwa ini mengingatkan semua pihak untuk tidak berkompromi dengan radikalisme dan terorisme yang mengancam keamanan dan ideologi bangsa." jelasnya.

Hendardi menegaskan, penyikapan atas terorisme harus terus dilakukan dan dimulai dari hulu terorisme, yakni intoleransi. Semua pihak harus menghentikan politisasi isu intoleransi dan radikalisme hanya untuk kepentingan politik elektoral 2018 dan 2019, yang justru memberikan ruang bagi kebangkitan kelompok ekstrimis.

Napiter Deihard Harus Ditangani Khusus
Keterangan serupa juga dipaparkan Stanislaus Riyanta, pengamat terorisme, mahasiswa Doktoral bidang Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia. Stanislaus Riyanta menegaskan, peristiwa rusuh di Mako Brimob, yang telah mengakibatkan gugurnya beberapa anggota Polri perlu menjadi catatan serius. "Narapidana kasus terorisme (Napiter) di Mako Brimob mempunyai karakteristik deihard dan tentu saja masih radikal, sehingga tidak ditempatkan di Lapas yang bercampur dengan napi kriminal atau kasus lainnya," jelas Stanislaus Riyanta.

Napiter dengan karakter deihard ini, lanjut Stanislaus Riyanta, tentu saja sangat berbahaya jika berulah, pemicunya bisa apa saja. Para napiter ini berkumpul menjadi satu, karena satu kasus yang mirip dan ideologi radikal yang sama. Jika ada masalah atau ketidakpuasan, maka satu teriakan provokasi bisa mempengaruhi yang lain. Napiter ini semakin berbahaya jika  mereka adalah eks kombatan, karena mempunyai kemampuan untuk bertempur

Stanislaus Riyanta menjelaskan, meskipun ada pihak yang menolak menghubungkan aksi ini dengan ISIS, namun catatan yang diperoleh dari SITE perlu menjadi perhatian serius. Rusuh di Mako Brimob tersebut diklaim berhubunan dengan ISIS. Hal ini secara jelas ditampilkan di SITE (SITE Intelligence Group) yang dapat diakses di laman ent.siteintelgroup.com yang mengutip dari kantor berita ISIS, Amaq News Agency, dikatakan telah terjadi baku tembak yang cukup sengit antara pasukan atau anggota ISIS dengan Densus 88 di dalam rumah tahanan Mako Brimob. SITE adalah lembaga yang cukup kredibel di bidang kajian terorisme dan radikalisme.

Stanislaus Riyanta berharap, Polri dapat segera mengendalikan situasi ini, tentu saja dengan tetap memperhatikan keselamatan petugas dan dampak bagi masyarakat secara umum. Dampak yang perlu diperhatikan adalah jika terjadi aksi yang heroik dari kelompok napiter bisa  memicu kebangkitan para sleeper cell dan penganut paham radikal yang berpotensi melakukan aksi teror lone-wolf. "Inilah yang harus dimengerti oleh masyarakat umum sehingga wajar jika Polri sangat hati-hati dalam bertindak dan menyampaikan informasi karena pertimbangan jangka panjang."

Terlepas dari kejadian tersebut, lanjut Stanislaus Riyanta, tentu perlu dilakukan evaluasi terhadap penanganan napiter agar kejadian rusuh di Mako Brimob seperti saat ini tidak terjadi lagi. "Napiter yang masih tergolong deihard harus diperlakukan khusus agar tidak membahayakan orang lain termasuk petugas. Tentu bisa dibayangkan dalam rumah tahanan Mako Brimob saja bisa melakukan hal yang sangat berbahaya apalagi jika ditempatkan di Lapas untuk narapidana umum atau bahkan ketika hidup bebas di masyarakat."

Stanislaus Riyanta menambahkan, masyarakat perlu didorong agar tidak terprovokasi oleh muatan-muatan politik yang mendompleng dari isu rusuh di Mako Brimob ini. Terorisme adalah ancaman luar biasa yang perlu penanganan yang tidak biasa. Dukungan dari masyarakat kepada negara untuk menangani terorisme perlu diberikan dengan konstruktif dan positif.  Aksi-aksi yang kontraproduktif, termasuk bersikap skeptis terhadap penanganan terorisme justru akan membuka celah kerawanan yang bisa dimanfaatkan sebagai pintu masuk ancaman terorisme berikutnya.

Tidak ada komentar