Breaking News

Joni Hermana: ITS Tak Terkait Aktivitas 2 Pelaku Terorisme di Surabaya dan Sidoarjo

SURABAYA - Dari 13 teroris yang tewas dalam aksi terorisme di Surabaya dan Sidoarjo, dua orang di antaranya ternyata pernah kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kedua mantan mahasiswa ITS Surabaya yang terlibat terorisme itu adalah Budi Satrijo dan Anton Ferdianto.


Namun Rektot ITS Surabaya Joni Hermana menegaskan bahwa ITS tidak memiliki kaitan dengan apa yang dilakukan Budi Satrijo dan Anton Ferdianto karena keduanya sudah tidak terlibat dalam kegiatan ITS lagi. "Aktivitas yang bersangkutan di luar sepengetahuan ITS dan semua merupakan tanggungjawab pribadi masing-masing di depan hukum," jelas Joni.

Keterangan klarifikasi itu dipaparkan Rektot ITS Surabaya Joni Hermana setelah nama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ikut serta jadi viral dalam pemberitaan terkait pelaku terorisme di Surabaya dan Sidoarjo.

Seperti diketahui, menurut keterangan kepolisian, total korban tewas akibat aksi terorisme di Surabaya dan Sidoarjo sebanyak 25 orang. Sebanyak 12 korban meninggal adalah warga biasa dan sisanya (13 korban tewas) merupakan pelaku terorisme. Sementara jumlah korban luka sebanyak 57 orang. Nama Budi Satrijo dan Anton Ferdianto termasuk dalam daftar pelaku terorisme yang tewas.

Rektor ITS  Joni Hermana tak menampik, terduga pelaku atas nama Anton Ferdianto memang pernah tercatat sebagai mahasiswa D-III Teknik Elektro ITS pada 1991. Namun, ia tercatat hanya menjalani kuliah satu tahun dan selanjutnya tidak aktif kembali. "Atas dasar tersebut bisa dikatakan dia bukanlah alumnus ITS. Kami tidak mengetahui status yang bersangkutan selanjutnya, ujarnya, Selasa (15/5).

Kemudian untuk terduga Budi Satrijo, kata Joni, memang pernah tercatat sebagai mahasiswa Teknik Kimia program studi S1 pada1988 lalu lulus sekitar 1996. Pihaknya menjelaskan, Budi pada masa studi tidak memperlihatkan tanda-tanda mencurigakan dan normal seperti mahasiswa lainnya. Bahkan, Budi juga dikenal aktif dalam kegiatan berwirausaha.

"Sebagai alumnus yang lulus 22 tahun yang lalu, seluruh aktivitas yang bersangkutan tentunya di luar sepengetahuan ITS dan semua merupakan tanggungjawab pribadi masing-masing di depan hukum," jelas Joni.

Rektor ITS juga menjelaskan, saat ini ITS memiliki seratus ribu lebih alumni yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri. Sementara alumni yang aktif dalam kegiatan kealumnian hanya sekitar seribu orang. Untuk kedua terduga pelaku tersebut, dia memastikan termasuk alumni yang sudah tidak aktif di ITS.

"Selama ini kegiatan yang terkait alumni, kita bekerja sama dengan IKA (Ikatan Alumni, red) ITS. IKA lah yang menentukan siapa alumni yang akan menjadi pembicara jika diundang dalam acara ITS dan kedua terduga pelaku ini tidak pernah menjadi pembicara," ujar Joni.

Dengan adanya penjelasan ini, Joni berharap masyarakat dapat menyimpulkan tindakan kedua terduga pelaku teror. Joni menegaskan, ITS tidak memiliki kaitan dengan apa yang mereka lakukan setelah lulus. Dengan kata lain, mereka dipastikan sudah tidak terlibat dalam kegiatan ITS lagi.

Tidak ada komentar