Breaking News

Jurnalisme Data Patahkan Kritikan Asal Bunyi


JAKARTA - Menjelang pelaksanaan pemilihan umum legislative dan pemilihan presiden 2019, pemerintahan Presiden Jokowi kerap mendapat serangan kritik bernada negatif. Hal itu dapat dimaklumi karena pada Pilpres 2019 nanti, Jokowi juga akan berkompetisi sebagai Capres incumbent. Karena itu, masyarakat perlu cerdas dalam membaca kritik atau sindiran yang ditujukan pada Jokowi. Sebab, tidak semua kritik dilandasi dengan data-data yang akurat. Bahkan, ada juga kritik yang asal bunyi dengan tujuan untuk menjatuhkan Jokowi.

Dalam situasi ini, jurnalisme data akan menempati posisi penting bagi masyrakat. Sebab, jurnalisme data akan punya kekuatan dalam mematahkan kritik asal bunyi yang tujuannya hanya untuk menjatuhkan Jokowi. Tema pentingnya data dalam jurnalisme ini menjadi bahasan menarik pada forum Learning from The Experts: ‘Are We Ready for Data Driven Journalism?’ di Universitas Atmajaya, Jakarta, Senin, 7 Mei 2018.

Dalam acara ini, Andhina Dwifatma menegaskan, jurnalisme data adalah kemampuan story telling dari tersedianya data yang cukup banyak. Hal serupa disampaikan Craig Butt yang menggarisbawahi berkembangnya jurnalisme data akhir-akhir ini.

“Jurnalisme data penting untuk menangkal rumor dan sindiran-sindiran. Dengan menerapkan jurnalisme data, dapat tersampaikan gambaran besar dari sebuah cerita, kisah dalam konteks lokal, serta cerita-cerita humanis personal dalam waktu yang sama,” katanya.

Sementara Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho mengatakan, memasuki era Revolusi Industri 4.0, kemampuan pengolahan data menjadi sebuah hal penting yang harus dikembangkan bersama. Pengelolaan data yang kurang terukur kerap menyebabkan miskoordinasi, termasuk juga antar instansi pemerintah dalam melaksanakan program-program pembangunan.

Yanuar menekankan, di era baru ini, pengumpulan data tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tapi seluruh lapisan masyarakat. “Di sinilah, solusi digital dari publik dapat menjadi bagian pemecahan masalah pada pembangunan berkelanjutan,” kata Yanuar dengan mencontohkan penggunaan web dan aplikasi gawai untuk menyediakan informasi teknologi pada rantai suplai komoditas.

Akademisi dari Institute of Innovation Research, Manchester Business School, ini kemudian memaparkan tantangan revolusi digital di Indonesia, antara lain bagaimana menyinkronkan antara kebutuhan konsumsi teknologi informasi dan penyediaan kapasitas produksinya.

Dicontohkan, saat ini ketergantungan masyarakat pada platform digital semakin tinggi, sementara di sisi lain, Indonesia berada pada kondisi darurat tenaga programmer. “Dari seluruh sarjana kita, hanya ada 2,4 persen yang lulusan bidang sains komputer. Dan angka itu terus turun,” kata Yanuar.

Untuk itu, Yanuar menguraikan, beberapa langkah dilakukan pemerintah dalam merespon Revolusi Industri 4.0 “Di antaranya dengan mereformasi sistem pendidikan, meningkatkan peluang wirausaha, menggunakan jaringan untuk meningkatkan investasi, serta menciptakan insentif pajak yang fair,” jelasnya.

Juga hadir dalam diskusi setengah hari ini, jurnalis data The Age Australia Craig Butt, CEO Katadata Metta Dharmasaputra, dan Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya Andina Dwifatma.

Tekait trend ‘jurnalisme data’, Metta menekankan, saat ini kita memasuki masa ‘beyond journalism’. “Di era digital, data dan informasi ibarat air bah. Karena itu, cara tepat diseminasi data menjadi penting,” kata Metta.

Metta menyatakan pentingnya konten berbasis data dan fakta. Dengan memaparkan data, konten berita/tulisan berusaha menjelaskan fakta dan tidak terjebak pada keriuhan pernyataan. “Konten yang kredibel berdasarkan pada data dan fakta diperlukan untuk mengungkap kebenaran, melawan fitnah dan hoaks, memperkuat kredibilitas informasi, serta terhindar dari politisasi isu,” ungkap mantan jurnalis Tempo ini.@

Tidak ada komentar