Breaking News

La Ode Ida: Masuknya Tenaga Kerja Asing Terindikasi Terjadi Mal Administrasi Terkait Perpres No.20/2018



JAKARTA - Komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI), La Ode Ida, meyatakan, masuknya tenaga kerja asing di Indonesia belakangan ini terindikasi adanya mal administratif terkait Perpres No.20/2018 tentang tenaga kerja asing (TKA). Hal itu dungkapkan La Ode Ida dalam diskusi publik bertema "Perpres No.20/2018 dan Ekspansi Tenaga Kerja China”  yang diselenggarakan oleh Sekretariat Bersama (SEKBER) Partai Gerindra dan PKS.

La Ode Ida, menyatakan bahwa dirinya tidak berpihak kepada kelompok  pemerintah maupun oposan. “Pertama saya ingin menyampaikan posisi ombudsman netral tidak berpihak kepada siapa pun,  dan kebetulan kami diberi mandat untuk melakukan pengawasan terkait dalam publik di berbagai bidang sektor dan berbagi level”.

Komisioner Ombudsman mempersilakan adanya perdebatan mengenai tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia asalkan dapat dipertanggungkan. “Saya kira silahkan diperdebatkan pro kontra terhadap keberadaan tenaga asing di Indonesia, khususnya dari China, dan persepsi masing-masing. tapi kita harus berhenti pada data, fakta laporan yang nyatanya bahwa tidak bisa dipungkiri arusnya deras masuk ke Indonesia”.

La Ode Ida mengakui dirinya menemukan fakta yang bertentangan dengan undang-undang sehingga terindakasi mal admistratif. “Faktanya di lapangan itu bertentangan dengan undang-undang itu yang disebut dengan mal administrasi sebetulnya”.

La Ode meyampaikan, penyebab adanya indikasi mal administratif terkait Perpres No.20/2018 tentang tenaga kerja asing (TKA). “Faktanya adalah dilapangan itu banyak sekali tenaga kerja asing khususnya pada cina, orang-orangnya dari tiongkok. Yang keberadaanya itu bertentangan peraturan uu yg berlaku”.

La Ode Ida menyebutkan, dalam satu hari berkisar ratusan tenaga kerja asing dari Tionghoa masuk ke Provinsi Kendari dengan menggunakan pesawat komersial. “Jadi pintunya melalui dari kendari, jadi yang datang setiap hari itu minimal dua pesawat grup Lion, Batik Air. Kadang hampir mencapai 100% penumpangnya adalah suku bangsa tionghoa yang tidak bisa bahasa indonesia, hitunganya 200 lebih lah setiap hari yg masuk dibandara itu, itu baru satu jalur”.(RH)

Reporter: Rahmad

Tidak ada komentar