Breaking News

Munculnya Perempuan dan Anak dalam Terorisme Jadi "Lonceng Bahaya" Bagi Indonesia


Fenomena munculnya bom bunuh diri dengan melibatkan perempuan dan anak-anak yang terjadi di Surabaya, mendapat sorotan dari banyak media. Fenomena bom bunuh diri dengan melibatkan perempuan dan anak-anak yang terjadi di Surabaya, menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, merupakan aksi pertama kali yang terjadi di Indonesia
.
Seperti diberitakan, dalam aksi bom bunuh diri di tiga tempat ibadah Surabaya pada 13 Mei 2018 terdapat perempuan dan anak-anak sebagai pelaku. Demikian pula dalam aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya pada 14 Mei 2018, juga terdapat perempuan dan anak-anak sebagai pelaku.

Menurut Tito Karnavian, pelaku serangan bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya adalah satu keluarga. Satu keluarga itu merupakan bagian dari kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Surabaya. Mereka adalah satu kelompok dengan keluarga Dita Oepriarto yang melakukan bom bunuh diri di tiga tempat ibadah Surabaya pada 13 Mei 2018.

Pesan Khusus Teroris dan Makna Simbul Perempuan dan Anak
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: kenapa fenomena bom bunuh diri yang melibatkan perempuan dan anak-anak kini terjadi di Indonesia? Adakah pesan khusus yang ingin mereka sampaikan melalui simbul pelibatan perempuan dan anak-anak?

Mantan narapidana teroris yang sudah mengalami deradikalisasi, Sofyan Tsauri, punya informasi menarik terkait munculnya fenomena bom bunuh diri yang melibatkan perempuan dan anak-anak tersebut. Menurut Sofyan Tsauri, aksi teroris dengan melibatkan perempuan dan anak-anak sudah biasa terjadi di  Irak dan Suriah. Pelakunya biasanya adalah janda-janda yang suaminya terbunuh, bahkan ada yang jadi otak penyerangan.

Sofyan Tsauri berpendapat, di balik keterlibatan perempuan dan anak-anak itu ditengarai ada pesan khusus yang hendak disampaikan pada kaum radikal lainnya. Adanya pelaku wanita dan anak bisa jadi sebagai pesan untuk para pria, agar bisa lebih giat melakukan perlawanan. "Pesannya jelas, wanita saja bisa. Ini provokasi, agar para pria bisa lebih giat lakukan perlawanan pada pemerintah atau target," kata Sofyan Tsauri seperti dilansir dalam tayangan live Metro TV.

Sedang teror di Surabaya, menurut Sofyan Tsauri, diduga mengikuti modus yang biasa terjadi di Irak dan Suriah. Namun, menurut Sofyan, keterlibatan perempuan dan anak-anak sebagai pelaku bom bunuh diri juga merupakan korban ideologi atau pemahaman yang salah  soal jihad. Karena itu, Sofyan Tsauri berharap, insiden teror di Surabaya harus membuat seluruh pihak selalu waspada akan bahaya paham radikal.

Pendapat Sofyan Tsauri ada benarnya bahwa keterlibatan perempuan dan anak-anak sebagai pelaku bom bunuh diri di Surbaya bisa dijadikan peringatan keras bagi Indonesia. Kerelaan perempuan dan anak-anak untuk mati dalam bom bunuh diri di Surabaya itu ibarat "lonceng berbahaya" karena hal itu dapat memicu timbulnya aksi-aksi teror lain yang lebih mengerikan lagi.

Tolak Upacara dan Pelajaran PPKn, Tapi Cita-citanya Mati Sahid
Menyusul munculnya fenomena bom bunuh diri yang melibatkan perempuan dan anak-anak tersebut, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, meminta lembaga pendidikan dasar dan menengah di Surabaya agar memperhatikan kondisi psikologis para pelajarnya. Permintaan Tri Rismaharini tersebut dipaparkan setelah mendapati fakta adanya anak pelaku bom bunuh diri yang menolak ikut upacara dan enggan mengikuti pelajaran pancasila/PPKn di sekolahnya.

Tri Rismaharini mengaku tak bisa memahami kenapa pelaku bom bunuh diri di Surabaya tega mengajak anak-anaknya terlibat langsung dalam aksi teror tersebut. Sebagai orang tua, Tri Rismaharini sendiri mengaku pikirannya sering terbebani hingga pusing jika anaknya sendiri sakit.
Tapi anehnya, pelaku bom bunuh diri di Surabaya malah tega mengajak anak-anaknya untuk mati bersama demi melakukan teror yang kurang jelas tujuannya.

Menurut Tri Rismaharini, sikap anak pelaku bom bunuh diri termasuk aneh dan tak wajar. Jadi wajar saja bila Tri Rismaharini meminta lembaga pendidikan dasar dan menengah di Surabaya agar memperhatikan kondisi psikologis para pelajarnya. "Ini kan mereka nggak ngerti kalau itu nggak wajar. Harusnya, kita dan guru mereka yang paham ini lah yang memberikan arahan. Kita harus peka akan hal-hal ini. Penting mendapatkan informasi awal untuk bisa mendeteksi lebih dalam," pinta Tri Rismaharini.

Cara Total Melawan Radikalisme 
Langkah yang ditempuh Wali Kota Surabaya itu sangat sejalan dengan pemikiran Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto, bahwa serangan total dari pelaku teroris di Indonesia juga harus dihadapi dengan total oleh negara bersama seluruh komponen bangsa Indonesia.

Menurut Wiranto, serangkaian teror yang terjadi di Indonesia harus dihadapi dengan serius dan bersungguh-sungguh. "Tidak ada main-main dalam menghadapi terorisme, Harus serius. Bersungguh-sungguh," tegasnya dalam jumpa pers usai pertemuan dengan para sekretaris jenderal parpol di rumah dinas Menko Polhukam, Jakarta, Senin (14/5/2018),

Selain membutuhkan payung hukum yang jelas dengan segera menyelesaikan revisi UU Anti Terorisme di DPR, kata Wiranto, pemberantasan terorisme di Indonesia juga membutuhkan dukungan dari seluruh seluruh komponen bangsa Indonesia. Artinya, pemberantasan terorisme di Indonesia memang perlu kerja sinergis multipihak sesuai bidang kompetensi masing-masing, termasuk  masyarkat dan lembaga penyelengara pendidikan di sekolah.

Dalam hal ini, warga dan lembaga pendidikan dapat membantu secara preventif, khusunya dalam bertindak untuk pencegahan dini maupun proses edukasi untuk deradikalisasi. Jika ada indikasi-indikasi berbau terorisme bisa ditangani dengan cepat. Teroris sudah melakukan serangan total, maka harus dihadapi dengan total pula dengan melibatkan seluruh komponen bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar