Breaking News

Sebuah Refleksi: Kenduri Itu Bernama Mayday

Menata Platform Baru Industrial Rel's 4.0 dalam Menyongsong Peringatan Hari Buruh untuk Harapan Sejahtera Rakyat Indonesia.


Kenduri dapat dimaknai sebuah hajatan atau perjamuan akan sebuah peristiwa yang disakralkan dan dilakukan dengan konsisten dan hikmat selama berabad-abad lalu oleh masyarakat yang menyakininya. Dalam beragam momentum mendasarkan kepada ritual event masing masing adat terserak sabang sampai Merauke. Kenduri selalu dinanti dan ngangeni. Bagaimana dengan Mayday, apakah dapat disebut dengan Kenduri?

Melihat Mayday kali ini terasa suasana sebuah Kenduri. Semua menunggu. Semua bicara akannya. Semua mengadu akan keberuntungan atasnya dan apakah ending story Mayday kali ini menjadi perhelatan akbar atau kembali sebagai pertarungan antara kubu kepentingan yang mengusung thema besar para aktivis buruh dengan Pengurus SP/SB. Mudah-mudahan tanggal 1 mei ini buruh focus mengusung perjuangan hak-haknya, tidak tercemar atas hingar bingar politik demi kepentingan segelintir orang. Mayday kali ini menjadi Kenduri bagi Pekerja/Buruh atau menambah lubang menganga menjadi tanda semakin jauh sejahtera bagi rakyatnya.

Mayday Hari Solidaritas Pekerja/Buruh
Adalah momentum hari buruh di hari yang diliburkan agar punya kebebasan untuk mengkspresikan kebebasan atas Hak berserikat. Beragam cara peristiwa ini dimaknai dari teriakan menghujat sampai dengan doa dzikir bersama.

Yang menarik adalah respon masyarakat yang menyaksikan dan mendengar hingar-bingar Mayday ternyata mempunyai banyak persepsi atasnya, bisa jadi takut, cemas, marah, senang, gembira dan bisa pula cuek bebek saja tanpa respon dan menganggap angin lalu saja.

Beragam reaksi ini menjadikan kita ingin mengupas bagaimana  ragam memaknai Mayday di Indonesia mau kemana arah Hari solidaritas Buruh Dunia ini dipertaruhkan. Serta mempunyai makna apa dalam perjalanan Mayday setiap tahun diperingati. Berdampak apa terhadap produktivitas pekerja dan daya saing ekonomi nasional kita.

Solidaritas yang dibangun sesama pekerja Buruh untuk menyuarakan hak haknya. Seringkali tidak sejalan dengan keinginan untuk membangun solidaritas dengan Pengusaha untuk bersinergi bicara sejahtera. masih adakah wak wasangka. Masihkah mungkin buruh menjadi tamu di Negeri sendiri. Pada 1 Mei 2018 semua harapan dipertaruhkan untuk semua kenduri mengusung Harapan Buruh sejahtera.

Mayday adalah Kenduri Kepentingan.
Tidak hanya politisi yang mampu menyuarakan kepentingan atas konstituennya. Dinamika perburuhan juga mempunyai dialetika kepentingan yang khas atas pasang surut isu tuntutan dari sebatas upah sampai ganti Presiden.

Tentunya ini membawa konsekuensi yang besar atas waktu, perhatian dan energi yang terkuras demi tercapainya tuntutan yang disuarakan.

Tuntutan kepada Pemberi Kerja di sana sini terpampang potrem buram diputar kembali pada setiap sudut kawasan industri. Buruh diadili dengan timpukan pentungan karet tumpul dan polisi saat yang sama dihadiahi lemparan serempak batu kali.

Manajemen teras tanpa welas asih di sweeping bak Sang Pendosa, Pekerja wanita di sandera berhari-hari tidak boleh meninggalkan tempat kerja bila tuntutan karyawan outsourcing belum mumtaz menjadi permanent hingga realitas si Ibu muda hamil tua stres penuh dramatik melahirkan si Buyung Upik  diatas meja produksi.

Semua lengkap sudah elegi epik terpampang nyata bak sinetron Indonesia. Belum lagi perselisihan antar konfederasi-Federasi SP/SB atau ribut rebutan antar anggota dari SP/SB di perusahaan yang mempunyai lebih dari 2 Serikat. Dan banyak lagi cerita yang mengusung tema yang berbeda bisa jadi saling menghujat dan saling berselisih, ujung-ujungnya ramai lagi sampai di meja Peradilan Hubungan Industrial. Bila tidak puas di ranah peradilan tertinggi di Geneva dipertaruhkan nama baik bangsa atas Dispute yang kadang masih bisa di selesaikan di ruang keluarga Tripartite nasional kita.

Banyak ruang dialog yang terbuka di tanah air. Untuk asah asuh asih yang belum terajut dalam komunikasi harmoni. dan selalu aja ada kambing hitam yang terpojokkan. Tersisa sakit hati dan ketidakadilan antar pihak menggema sana sini. Pemberi kerja-Buruh dan Pemerintah tidak ada yang diuntungkan semua menjadi objek akan buramnya hubungan Industrial kita.

Apakah wajah Ketenagakerjaan Indonesia akan seperti ini terus?
Buruh harus punya strategi baru untuk mentuntaskan PR ketenagakerjaan ini.
Pengusaha harus menata kembali partnership di tingkat Perusahaan.
Bagaimana Pemerintah meraih simpati semua pihak untuk mencapai tujuan yang sebenar-benarnya yakni mensejahterakan rakyat Indonesia dalam keadilan sosial.

10 Topik Melegenda di Hari Solidaritas Pekerja/Buruh.
1. Hapus Outsourcing dan sistem Kontrak merupakan rezim perbudakan Modern.
2. Jaminan Pensiun layak 70% dari Upah Pekerja.
3. Tolak TKA unskill
4. Upah Murah. berlakukan upah layak disemua sektor dengan SUSU ( struktur & Skala Upah).
5. Union Busting ; pembredelan SP/SB dan kriminalisasi Pengurus SP/SB
6. Tolak PHK sepihak sebagai arogansi pengusaha.
7. Revisi UU PPHI terkait peradilan yg benar cepat. yang benar Murah dan Yang benar-benar BENAR.
8. Tolak Pangkas Kesejahteraan Dalih menghindari PHK.
9. BAYAR LEMBUR KAMI. jangan asal pangkas.
10. Nasib Buruh Harian Lepas (BHL) di kebun sawit tanpa daya pekerja rodi miskin sejahtera.

Kesepuluh harapan ini menjadi Tuntutan yang paling banyak diperjuangkan bagi pekerja kurun waktu 2012 sd 2017. Lain ladang lain belalang. lain Pekerja lain pula permasalahan Pengusaha. Di bawah ini 10 (sepuluh) isu pengusaha atas kondisi ketenagakerjaan.

1. Upah Produktif. Bayar mahal bukan masalah tapi bayar kemahalan adalah Malapetaka.
2. Produktivitas kerja rendah.
3. Penambahan Hari Cuti Bersama.
4. Employee Cost Menggunting Profit.
5. Harmonisasi Pesangon. Pensiun dan Penghargaan Masa Kerja
6. Pengurus Serikat Pekerja roles Model atau bukan.
7. Kesiapan SDM memasuki revolusi industri 4.0.
8. Regulasi yg mengatur shifting padat karya ke Digitaliasi masih minim. dan insentif apa yg didapat bila menerapkan industri 4.0
9. ketentuan perundingan Perjanjian Kerja Bersama sebatas proteksi belum menjadi parameter produktivitas Pekerja.
10. SDM yang mempunyai etos kerja tinggi semakin sulit didapatkan. Angkatan kerja baru (Gen Y) cenderung permisif kurang punya Motivasi kuat.

Mayday is Funday
Sebuah spirit yang digaungkan oleh Kementrian Tenaga kerja dalam menyambut Maday tahun ini. kami menyambut dengan #hariburuhgantitopik2018. Mayday is Funday adalah seruan bahwa pada hari ini ketika memperingati Hari Buruh seluruh komponen Pekerja/Buruh untuk melakukan dengan gembira. bersuka ria dengan beragam kegiatan yang membangkitkan kolaborasi. Sinergi antar pekerja. antar SP/SB dan dengan segenap stakeholder. Dimana Mindset Màyday is Funday adalah kecerdasan sosial Sang Menaker dalam mencari terobosan dalam kebuntuan dan reaksi anarkis massa setiap memperingati hari Buruh Dunia.

Mampukah Mayday memberikan spirit baru kepada semua pihak untuk mampu mencari solusi kreatif dalam melihat kepentingan masing masing pihak menjadi sebuah ikhtisar baru untuk menjadikan Mayday adalah momentum penting untuk mengapresiasi akan upaya-upaya produktif dalam membangun Industri peace di masing-masing tempat kerjanya? Bagaimana yang masih berteguh hati bahwa Mayday adalah HARI DEMO HARI AKSI HARI MENGGUGAT? Semua akan kembali terpulang bagaimana kita punya cara memaknainya.

Langkah positif Hanif Dhakiri sebagai Menaker mengajak kita untuk melepas baju masa lalu untuk menatap Masa depan Pekerja/Buruh adalah sisi baik untuk menjadi mitra Strategis bagi Pemberi kerja dalam menyongsong revolusi Industri 4.0. Kita kayuh biduk harmoni bersama untuk Indonesia Rakyat sejahtera.

Imam Ghozali memberikan pesan bijak.
"Tahukah kau Jarak yang paling jauh dalam Hidupmu???"
 Masa lalu - jawabnya.

Mulailah melangkah untuk hari esok, jangan pernah ragu akan masa depan. masa lalu barusan telah usai dan kita jelang bahwa Hari Buruh kali ini adalah hari baik mengambil challenges besar bersama menjadi sebuah add values bagi masa depan Ketenagakerjaan Indonesia yang berkeadilan dan bermartabat.

Selamat Datang Masa Depan...!


Tidak ada komentar