Breaking News

Survei LSI Denny JA: Kasus e-KTP Pengaruhi Elektabilitas Partai


JAKARTA - Proses pengadilan kasus e-KTP terhadap mantan Ketua Partai Golkar Setya Novanto atau Setnov berpengaruh terhadap perolehan suara Partai Golkar. Hal itu terungkap dari hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dirilis di Jakarta, Selasa (8/5/2018). "Isu pengadilan Setya Novanto menurunkan dukungan Golkar secara signifikan," kata peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ardian Sopa  di kantornya, Jakarta, Selasa (8/5/2018).

Dari para responden yang memilih Golkar, yang terpengaruh isu Setnov dan tidak akan memilih partai tersebut sebanyak 5,3 persen. Sedangkan yang tetap memilih sebanyak 84,5 persen dan tidak tahu atau tidak jawab sebesar 10,2 persen.

Ardian Sopa mengatakan isu terseretnya nama politikus PDI Perjuangan Puan Maharani dan Pramono Anung di kasus korupsi e-KTP berdampak pada elektabilitas PDI Perjuangan. “Isu Puan dan Pramono soal e-KTP menurunkan dukungan PDIP secara signifikan,” kata Ardian.

Seperti diketahui, nama Puan Maharani dan Pramono Anung terseret dalam kasus korupsi e-KTP setelah disebut oleh Setya Novanto dalam sidang pada 22 Maret 2018. Setya menuding ada uang yang mengalir ke Pramono dan Puan masing-masing sebesar US$ 500 ribu. Atas tudingan ini, Puan dan Pramono sama-sama telah membantahnya.

Ardian mengatakan, ada 10,7 persen responden yang menyatakan tidak akan lagi memilih PDI Perjuangan akibat isu tersebut. Meski begitu, masih ada 77 persen responden menyatakan akan tetap memilih PDI Perjuangan. Sisanya, yakni 12,3 persen menyatakan tidak tahu. Pertanyaan mengenai dukungan ini hanya diberikan kepada pendukung PDI Perjuangan.

Meski begitu, perolehan suara PDI Perjuangan dan Partai Golkar tetap berada dalam tiga besar teratas bersama Partai Gerindra. Dalam survei ini, PDI Perjuangan menduduki posisi pertama dengan meraih suara 21,70 persen. Disusul kemudian oleh Golkar dengan 15,30 persen, dan Gerindra 14,70 persen.

Masih kuatnya perolehan suara PDI Perjuangan dan Partai Golkar tersebut karena terkait program dan terasosiasi dengan figur Capres yang didukungnya. Menurut Ardian, PDI Perjuangan masih terasosiasi kuat dengan figur Joko Widodo dibandingkan dengan partai lain. Menurut data LSI Denny JA, 65 persen responden mengingat PDI Perjuangan karena figur Jokowi. “Ini yang menjadi jawaban mengapa PDI Perjuangan meskipun ada kasus terkena isu, tetapi masih bertahan dengan asosiasi Jokowi,” kata Ardian.

Sementara program yang ditawarkan Golkar, menurut Ardian, membuat masyarakat suka. Sehingga partai berlambang pohon beringin itu, tetap berada di papan atas. Program seperti sembako murah disukai responden sebanyak 87,5 persen, kemudian lapangan kerja tersedia 84,7 persen, rumah harga terjangkau dan mudah akses sebesar 82,4 persen. Terakhir teknologi tinggi untuk keadilan dan kesejahteraan sebanyak 76,9 persen yang menyukainya.

Mengenai tingginya elektabilitas Partai Gerindra karena terpengaruh faktor Ketua Umumnya Prabowo Subianto yang akan maju kembali di Pilpres 2019. Dari responden yang memilih Gerindra, masih kata Ardian, sebanyak 80,9 persen menilai, Gerindra-lah yang mengusung Prabowo sebagai Capres. Sedangkan 5,3 persen masih beranggapan Prabowo diusung gabungan partai lain. Dan tidak tahu atau tak menjawab sebanyak 13,8 persen.

"Ketika isu capres Prabowo menghangat, asosiasi ini (Prabowo diusung Gerindra) yang menaikkan dukungan untuk Gerindra," pungkasnya.

Dalam survei LSI Denny JA ini juga terlihat adanya dampak bila beberapa partai mencalonkan Gatot Nurmantyo sebagai Capres 2019. Sebanyak 16,5 persen responden memilih Demokrat bila mencalonkan Gatot Nurmantyo sebagai Capres. Padahal, elektabilitas partai berlambang bintang mercy itu hanya 5,8 persen. Begitu pula dengan PKB. Sebanyak 15,8 persen responden memilih PKB bila mencalonkan Gatot Nurmantyo. Padahal, sebelumnya hanya 6,2. persen.

Survei LSI Denny JA juga menunjukkan, 19,8 persen responden memilih Gerindra bila mencalonkan Gatot Nurmantyo, naik dari sebelumnya 14,7 persen. "Tidak hanya pendukung Gatot (yang akan dukung Gerindra) tetapi juga pendukung Prabowo. Sehingga ada dua penggabungan kekuatan," kata Ardian.

Survei LSI Denny JA dilakukan dengan wawancara tatap muka 1.200 responden menggunakan kuesioner pada 28 April - 5 Mei 2018. Metode pengambilan sampel yakni multistage random sampling. Sementara itu, margin of error plus minus 2,9 persen.@

Tidak ada komentar