Breaking News

Teror Maut Gereja, LPRI Desak DPR-RI Sahkan UU Antiteroris.




JAKARTA, Kibarkini--Aksi penyerangan teror terhadap tiga gereja di Surabaya Jawa Timur, Ahad (13/5) pagi tadi, membawa luka kemanusian dan nilai-nilai universalitas keberagamaan dan keberadaban. Aksi itu ditingkahi teror bom bunuh diri seorang pelaku di dalam sebuah gereja.

"Seluruh jajaran Lembaga Pengawas Reformasi Indonesia (LPRI) se-Indonesia mengutuk tidakan dehumanis dan demoralis itu," kata Ketua Dewan Nasional LPRI Bidang Kebijakan Stragis dan Pembangunan Nasional, Hendrik Yance Udam, kepada Kibarkini.com di Jakarta, Ahad malam jelang dinihari.

"Kami juga mendesak Senayan (DPR-RI) untuk segera mengesahkan UU Antiteroris yang terkesan diabai dalam bahasan parlemen Senayan," imbuh pria asal Papua itu gemas.

Hendrik meyakini, pengesahan UU Antiteroris akan memberi tindakan konstitusional bagi TNI-Polri untuk menumpas habis aksi teroris yang sangat merongrong negara dan kenyamanan rakyat. “Harus ditumpas sampai ke akar-akanya tanpa memberi ruang sedikitpun bagi mereka (teroris) untuk hidup di bumi NKRI," tandas Hendrik.

Dia menghimbau agar masyarakat tidak terjebak dalam pemikiran sempit yang menyalahkan agama tertentu dalam aksi teror tersebut. "Sebab setiap agama di jagad raya ini tidak mengajarkan tindak kekerasan apapun terutama aksi teroristik, apalagi melalui bom bunuh diri. Melainkan mengajarkan tentang kedamain dan cintah kasih," kata Hendrik.

Menurut Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Papua ini, ada kelompok tertentu yg menggunakan agama sebagai alat propaganda dengan aksi teroristik. "Ini cara-cara picik, tidak bermartabat, merusak kebhinekaan dan keindonesiaan kita dan merusak citra agama," ungkap Hendrik.-***

Tidak ada komentar