Breaking News

Bedah Buku Autobiografi Alijullah Hasan Jusuf: Penumpang Gelap yang "Sukses" Jadi Lurah Paris


Lelaki Aceh asal Sigli bernama Alijullah Hasan Jusuf ini terbilang punya nyali super nekat, bahkan mungkin lebih nekat dari para bonek (bondo nekat) suporter Persebaya Surabaya. Kenapa demikian? Karena dia berani "menyelundupkan diri" ke Eropa dengan naik pesawat terbang tanpa bekal uang, tanpa tiket pesawat, tanpa paspor dan visa. Kenekatannya itu akhirnya mampu mengantarkannya menjadi Keuchik Paris atau Lurah Paris setelah menetap selama 40 tahun di Perancis.

Kisah nekat Alijullah Hasan Jusuf itu terungkap dalam acara bedah buku “Penumpang Gelap” dan “Paris Je Reviendra” karya Alijullah Hasan Jusuf yang digelar di Atjeh Connection Resto and Coffee Sarinah, Jakarta, Sabtu sore. Wartawan senior Kompas, Budiarto Shambazy, juga ikut hadir mengupas buku autobiografi yang ditulis Alijullah Hasan Jusuf tersebut. 

Menurut Budiarto Shambazy, banyak kisah menegangkan dalam buku autobiografi yang ditulis Alijullah Hasan Jusuf ini, terutama pada bagian perjalanannya ke Eropa naik pesawat tanpa tiket, tanpa paspor dan tanpa visa. "Alijullah  akhirya tertangkap dan dipenjara. Kemudian dipulangkan ke Indonesia. Tapi Alijullah kembali lagi berbuat nekat," kata Budiarto Shambazy.

Buku autobiografi Alijullah Hasan Jusuf ini dinilai perlu dibaca karena memuat kisah inspiratif, terutama soal pentingnya rasa percaya diri, makna perjuangan dan kerja keras Ali dalam mewujudkan impiannya. Dalam kesempatan ini, Alijullah Hasan Jusuf memberikan buku yang ditulisnya kepada salah satu tokoh Aceh, Amir Faisal, untuk memperkaya koleksi perpustakaan di Atjeh Connection Resto and Coffee. 




Ringkasan Kisah Alijullah Hasan Jusuf
Sejak tahun 1966, pemuda Aceh asal Sigli ini sudah mempunyai impian ingin merantau untuk menuntut ilmu. Setelah tamat SMP, pemuda Aceh ini akhirnya mengikuti ayahnya ke Toraja, Sulawesi Selatan. Ia bersama ayahnya mengantarkan keluarga pamannya yang gugur dalam perang melawan pasukan pemberontak TII (Tentara Islam Indonesia). Sepulang dari Toraja, Alijullah nekat untuk tinggal di Jakarta.

Di tengah situasi Jakarta yang tidak menentu dengan demonstrasi di mana-mana, Alijullah harus berjuang bertahan hidup dengan menjadi penjual koran, menumpang tinggal di kantin orang, tinggal di kios rokok, dan menumpang tinggal di asrama orang. Di Jakarta, Alijullah sempat terancam putus sekolah karena biaya hidup yang mahal, kiriman dari kampung sering terlambat, dan ditambah lagi guru yang sering mangkir dari tugasnya. Meski begitu, Alijullah tidak patah semangat. Ia mencari kerja guna dapat membayar uang sekolahnya agar dapat melanjutkan pendidikannya.

Selama di Jakarta, setiap malam Alijullah selalu mendengar suara pesawat di Bandara Kemayoran. Dari sinilah, Alijullah punya mimpi-mimpi baru, yaitu ingin pergi ke luar negeri. Walau miskin, pada usia 17 tahun, Alijullah bertekad ingin mewujudkan mimpinya kelua negeri, yakni dengan menjadi penumpang gelap pesawat yang terbang ke Eropa.

Bagaimana dia bisa jadi penumpang gelap? Pada tahun 1967, setelah melakukan pengamatan di kawasan bandara, Alijullah akhirnya menemukan jalan keluar. Hanya bermodalkan boarding pass bekas, Alijullah akhirnya dapat pergi keluar negeri.  Selain menggunakan boarding pass bekas yang dia temukan di Halim, dia juga menemukan jalur lain dengan memanfaatkan kegiatan para pelajar yang kebetulan hendak ke belajar di Kairo, Mesir. 

Dengan cara itu Alijullah berhasil menjadi "penumpang gelap" dalam pesawat Garuda, walaupun sering dilanda rasa cemas setiapkali pramugari mengecek jumlah penumpang. Rasa cemas itu sering menghinggapi Alijullah karena pengecekan jumlah penumpang selalu dilakukan setiap kali pesawat transit di beberapa bandara, seperti Singapura, Bangkok, Bombay, Karachi, Kairo, dan Roma. Untungnya, Alijullah selalu lolos dari masalah.

Alijullah sempat tegang ketika pesawatnya melewati Laut Mediterania atau Laut Tengah, karena mengalami turbulensi hebat. Meski begitu Alijullah akhirnya berhasil mendarat di Amsterdam.  Pendek kata, Alijullah Hasan Jusuf ternyata dapat menembus Eropa, meski hanya bermodal nekat, tanpa bekal tiket pesawat, tanpa pasport, tanpa visa. 

Tapi perjalanan gelap Alijullah Hasan Jusuf akhirnya tercium aparat di Amsterdam hingga akhirnya ditangkap dan dipulangkan ke Indonesia. Setelah itu Alijullah Hasan Jusuf jadi terkenal karena menjadi berita koran akibat ulahnya ke luar negeri tanpa tiket, visa, dan passport. 

Setelah dipulangkan ke Indonesia, Alijullah Hasan Jusuf  bekerja cari uang dan hasilnya untuk pergi lagi ke Eropa dengan cara legal dengan membawa parport. Cita-cita Alijullah akhirnya tercapai, yakni dapat menetap di Paris setelah dipercaya mengabdi di KBRI Paris selama lebih dari 40 tahun.
Belakangan, Alijullah Hasan Jusuf  mendapat sebutan sebagai Keuchik Paris atau Lurah Paris.

Tidak ada komentar