Breaking News

Lagi, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti Tenggelamkan 125 Kapal Asing



Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kembali menunjukkan sikap tegasnya, yakni melakukan penenggelaman 125 kapal ikan asing (KIA) pelaku illegal fishing. Tindakan tegas ini terhadap 15 kapal asing itu dilakukan di 11 lokasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pelaksanaan penenggelaman kapal dikomandoi langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dari Kota Bitung, Sulewesi Utara, pada Senin 20 Agustus 2018.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menekankan penenggelaman 125 kapal asing pelaku kejahatan pada 20 Agustus lalu merupakan upaya pemerintah menunjukan kedaulatan negara di atas laut Indonesia.

Dalam konferensi pers, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menjelaskan bahwa 125 kapal yang ditnggelamkan merupakan pelaku illegal fishing. Penenggelaman dilaksanakan di 11 titik yakni Pontianak: 18 Kapal, Cirebon: 6 Kapal, Bitung: 15 Kapal, Aceh: 3 Kapal, Tarakan: 2 Kapal, Belawan: 7 Kapal, Merauke: 1 Kapal, Natuna/Ranai: 40 Kapal, Ambon: 1 Kapal, Batam: 9 Kapal dan di Tarempa/Anambas: 23 Kapal.

Disebutkan, rekapitulasi kapal pelaku illegal fishing sejak Oktober 2014 sampai dengan Agustus 2018 yang ditenggelamkan berjumlah 488 kapal.
 
Tarakan menjadi salah satu tempat penenggelaman KIA. Ada dua kapal dengan nomor lambung SA-10/5/F dan TW.3518/6/F ditenggelamkan di perairan Tarakan. Teknik peneggelaman kapal dengan cara melubangi badan kapal.

Direktur Polisi Air (Dirpolair) Polda Kaltara Kombes Pol Heri Sasangka mengatakan, dua KIA yang ditenggelamkan, merupakan hasil penangkapan pada 2017 dan 2018. “Kapal dengan nomor lambung SA-10/5/F ditangkap pada 2017, sementara kapal dengan nomor lambung TW.3518/6/F ditangkap pada 2018,” tuturnya.

Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPMKHP) Rina Janwar. mengatakan, penenggelaman kapal biasanya menggunakan bom dengan meledakkan KIA, sebagai upaya agar ada deterrence effect bagi KIA yang berencana melakukan illegal fishing di perairan Indonesia. "Saya rasa sudah ada deterrence effect, sehingga metode penenggelaman diubah,” ungkap

Dengan cara baru ini, KIA yang ditenggelamkan itu diharapkan akan menjadi rumah ikan untuk berkumpul, lokasi yang dipilih menjadi lokasi fishing ground bagi nelayan setempat. “Penenggelaman bertepatan momen Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73, penenggelaman KIA ini merupakanmanifestasi kita yang memberikan pesan untuk merebut kembali kedaulatan sumber daya perikanan,” ungkapnya.

Disebukan, dtari 125 kapal yang ditenggelamkan, kebanyakan KIA berasal dari Vietnam dengan jumlah 86 kapal. Menyusul Malaysia 20 kapal, Filipina 14 kapal dan Indonesia 5 kapal. “Berdasarkan data jumlah rekapitulasi jumlah kapal yang ditenggelamkan sejak Oktober 2014 hingga Agustus 2018 berjumlah 488 kapal, di mana KIA dari negara Vietnam yang banyak ditenggelamkan dengan jumlah 276 kapal,” bebernya.

Saat ini, Satgas 115 yang terdiri dari TNI AL, Polair Baharkam Polri, Bakamla dan, PSDKP KKP memperketat pengawasan terhadap Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di wilayah perbatasan Indonesia, karena wilayah tersebut sering dimanfaatkan KIA mencuri ikan.

“Kasus illegal fishing saat ini saya rasa sudah turun, sebagai contoh kawasan Laut Aru, dulu kegiatan illegal fishing di sana pada malam hari terlihat seperti kota. Namun sekarang sudah sepi, meskipun ada kegiatan illegal fishing tapi tidak sebanyak dulu,” ujarnya.


Tidak ada komentar