Breaking News

Catatan Kecil Asian Games: Ulah Jokowi, Suara Nyinyir, dan Dampak Ekonomi


Hari ini Asian Games 2018 resmi berakhir. Nanti malam acara penutupan Asian Games 2018 akan digelar di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Namun, Minggu siang ini Presiden Joko Widodo malah terbang ke Lombok.

Pertanyaannya: Apakah Presiden tak akan menghadiri acara penutupan Asian Games 2018? Mungkinkah, Presiden Joko Widodo "patah hati" karena ada suara-suara nyinyir terkait aksinya dalam pembukaan Asian Games 2018 lalu?

Saya pikir, Presiden Joko Widodo tak meremehkan acara penutupan Asian Games 2018. Saya yakin, Presiden Joko Widodo tetap menganggap Asian Games 2018 sebagai momen penting. Hanya saja, bersamaan dengan ajang internasional ini, saudara kita di Lombok sedang ada musibah gempa beruntutun. Jadi wajar saja jika, Presiden Joko Widodo tidak melupakan duka lara warga Lombok. Mungkin saja, sebagai pimpinan negara, Presiden Joko Widodo ingin mengecek kondisi lapangan secara langsung untuk memastikan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Lombok sudah berjalan dengan baik.

Soal suara-suara nyinyir terkait aksi heroik dalam pembukaan Asian Games 2018 lalu, saya pikir juga tak membuat Presiden "patah hati". Faktanya, Jokowi tetap enjoy saja. Bahkan, malah memberikan tanggapan dengan cara bercanda ria terkait ada suara-suara nyinyir pasca pembukaan. Boleh jadi, Presiden Joko Widodo bisa memaklumi bahwa di antara masyarkat Indonesia masih ada yang berwawasan sempit sehingga kaget ketika ada karya kreatif ditampilkan untuk menghibur para peserta Asian Games 2018 dari 45 negara seantero Asia.

Saya sendiri tidak kaget munculnya suara nyinyir yang cenderung bermuatan subyektifitas kebencian. Maklum saja, selama Orde Baru masyarakat Indonesia mengalmi pembodohan berkepanjangan lewat tangan rezim otoriatarian. Jadi, anggap saja suara nyinyir itu seperti rengekan anak taman kanak-kanak (TK) yang rewel pingin minta dot ibunya.

Yang pasti, event Asian Games 2018 sudah berhasil digelar dengan baik. Adalah suatu kebanggaan tersendiri, Indonesia mampu sukses menggelar Asian Games 2018 di tengah krisi ekonomi global, termasuk perang dagang Amerika dengan sejumlah negara. Bahkan, Indonesia sendiri juga diserang ancaman gugatan dari Amerika terkait kebijakan yang diambil pemerintahan Joko Widodo.

Yang sulit diterima nalar, para kaum nyinyir justru menunjukkan sikap aneh dan kontradiksi. Ketika pemerintah mengambil alih pengelolaan sejumlah aset tambang (seperti Freeport, Blok Rokan dll), para kaum nyinyir justru mengumbar pernyataan bernada pesimisme. Ada yang bilang, Indonesia mau bubar pada 2030, kemudian bilang Indonesia akan jadi sengara miskin selamanya. Jangan-jangan, para kaum nyinyir justru bagian kaki tangan pihak asing.

Untungnya, Presiden Joko Widodo punya sikap bijaksana menghadapi suara para kaum nyinyir. Presiden Joko Widodo hanya menanggapinya dengan canda saja tapi tetap bersemangat bekerja dan bekerja. Ketika gempa melanda Lombok, Presiden Joko Widodo langsung turun ke lokasi bencana. Bahkan, bukan hanya sekali saja Presiden Joko Widodo datang ke Lombok. Pada kunjungan terakhirnya, Presiden Joko Widodo sampai menginap di lokasi pengungsian, meski di Jakarta sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan Asian Games 2018.

Walau harus menghadapi cobaan gempa beruntun di Lombok, toh Indonesia berhasil menggelar Asian Games 2018 dengan baik. Yang menggembirakan, pelaksanaan Asian Games 2018 bukan hanya berhasil dalam penyelengaraan saja, tapi juga disertai keberhasilan peningkatan prestasi olahraga yang ditandai dengan merebut 31 medali emas dan menduduki peringkat ke-4 Asian Games 2018. Di luar itu, pelaksanaan Asian Games 2018 juga memberikan dampak ekonomi cukup positif.

Salah satu dampak positif bagi perekonomian Indonesia di antaranya meningkatkan sektor pariwisata, meningkatkan aktivitas ekonomi lokal, rnenciptakan lapangan kerja, dan mendorong pengembangan kota melalui pembangunan infrastruktur fasilitas olahraga.

INASGOC atau Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee dan Kementerian Pariwisata memperkirakan dampak langsung pengeluaran peserta dan pengunjung Asian Games 2018 diperkirakan mencapai Rp3,6 triliun , dengan perincian pengeluaran sebesar Rp 2,5 triliun di Jakarta dengan konsentrasi persebaran peserta dan pengunjung sebanyak 70 persen, dan Rp 1,1 triliun di Palembang dengan konsentrasi persebaran peserta dan pengunjung sebanyak 30 persen.

Diestimasikan, 88 persen pengeluaran berasal dari penonton dan wisatawan, diikuti 4,67 persen pengeluaran oleh atlet, 3,96 persen pengeluaran awak media, 2,34 persen pengeluaran 'officials', dan 0,77 persen pengeluaran sukarelawan. Biaya akomodasi diperkirakan menelan jumlah pengeluaran terbanyak, mencapai Rp 1,3 triliun , sementara biaya terbesar kedua adalah transportasi sebesar Rp 640 miliar , makanan dan minuman sebesar Rp 628 miliar, biaya belanja mencapai Rp 560 miliar, dan biaya hiburan sebanyak Rp 280 miliar.

Sementara itu, total perkiraan biaya konstruksi fasilitas pendukung Asian Games 2018, termasuk di antaranya pembangunan Gelora Bung Karno, Stadion Jakabaring, wisma atlet, dan Light Rapid Transit {LRT} mencapai Rp 34 triliun, dengan biaya operasional sebesar Rp 7,2 triliun. Dengan demikian, total dampak langsung penyeienggaraan Asian Games 2018 mencapai Rp 45 triliun.Sebuah angka yang tidak kecil dan tak bisa dipandang remeh.

Kalau toh masih ada yang suara nyinyir lagi, anggap saja itu seperti rengekan anak taman kanak-kanak (TK) yang rewel pingin minta dot ibunya. Yang penting, konsentrasi harus tertap terfokus pada pekerjaan yang produktif dengan disertai optimisme. Semoga saja penutupan Asian Games 2018 malam ini menjadi pesta kegembiraan dan memberikan dampak kebahagiaan ekonomi bagi masyarkat Indsonesia.

Yang mengherankan, di balik suara nyinyir, ada ribuan warga berdesak-desakan ingin nonton penutupan Asian Games 2018 meski harga tiket mahal. "Yang saya dengar, ada satu tiket yang harganya sudah 12 juta rupiah selembarnya. Tiket paling murah seharga ratusan ribu, tiada lagi yang dijual segitu. Semua ditawarkan dalam juta," kata  Alois Wisnuhardana.

Nah, kalau faktanya demikian, siapa sesungguhnya yang sakit? Jangan-jangan para penebar suara nyinyir perlu mendapat perawatan kesehatan jiwa. Bagaimana?


Tidak ada komentar