Breaking News

Dari Korea Selatan, Jokowi Boyong Investasi Rp 81,7 Triliun ke Indonesia


Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Korea Selatan kali ini menandakan terjalinnya 45 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Korea Selatan. Kedua negara bersepakat untuk memperingati 45 tahun hubungan diplomatik itu dengan lebih mempererat hubungan kedua negara khususnya di bidang ekonomi. Apa hasilnya?

Menurut Presiden Jokowi, Indonesia dan Korea Selatan bersepakat menargetkan perdagangan dengan nilai mencapai USD30 miliar pada tahun 2022 mendatang. Sedang dalam kunjungan kali ini, ada kesepakatan bisnis sebesar US$6,2 miliar. "Saya mendapatkan laporan, dalam pertemuan bisnis tadi telah ditandatangani sejumlah MoU dengan potensi investasi sebesar USD 6,2 miliar," ungkapnya.

Disebutkan, di tengah banyak ketidakpastian di dunia, Indonesia dan Korea Selatan mampu membukukan hubungan yang semakin kuat. "Perdagangan kita tahun 2017 naik 20 persen," ucapnya.

Kesepakatan investasi sebesar USD6,2 miliar tersebut jika dikonversi dalam rupiah setara dengan Rp81,7 triliun (dengan asumsi kurs APBN 2018 Rp13.400 per dolar AS). Artinya, dalam kunjungan ini Jokowi berhasil membawa masuk uang investasi sekira Rp81,7 triliun ke Indonesia.

Sementara Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong mengatakan, selain 15 nota kesepahaman, lawatan Jokowi juga menghasilkan enam komitmen investasi yang bersifat business to business antara private sector Indonesia dan Korsel, serta satu nota kesepaham antara BKPM dengan Hyundai Motor Compay. "Dengan ditandatangani kesepahaman dan komitmen investasi tersebut, diharapkan sentimen pelaku usaha luar terhadap pasar nasional dapat menjadi lebih baik," ujar Thomas.

Sebelumnya, dalam kesempatan yang sama, Presiden Moon Jae-in mengatakan bahwa kedua negara akan terus mengaktifkan pertukaran atau perundingan antara pejabat tinggi termasuk dalam pertemuan puncak dan perundingan kebijakan. Ia menyebut, sejak pertemuan puncak tahun lalu, kedua negara aktif melakukan kerja sama di berbagai bidang.

"Agar masyarakat (kedua negara) dapat merasakan hasil kerja samanya, saya akan mengecek hasil implementasinya secara lebih teliti dan mendorong agar dapat lebih cepat dilaksanakan," ujar Presiden Moon.

Presiden Moon juga mengapresiasi upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam mendukung terwujudnya perdamaian di Semenanjung Korea. Secara khusus ia berharap banyak dari Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk terus mengupayakan perdamaian di Semenanjung Korea dan belahan dunia lainnya.

"Saya menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Yang Mulia Presiden Jokowi atas jasanya membangun perdamaian Semenanjung Korea seperti telah mengundang pemimpin Korea Selatan dan Utara," tuturnya.

Untuk diketahui, dalam pertemuan bilateral yang berlangsung sebelum pernyataan pers bersama ini, kedua negara sepakat untuk menandatangani 6 nota kesepahaman yang disaksikan langsung Presiden Joko Widodo dan Presiden Moon Jae-in.

Berikut ini ialah keseluruhan nota kesepahaman yang berhasil dicapai kedua negara dalam pertemuan tersebut:

1. Nota kesepahaman mengenai kerja sama di bidang keimigrasian;
2. Nota kesepahaman mengenai kerja sama di bidang ekonomi;
3. Nota kesepahaman mengenai kerja sama di bidang manajemen sumber daya manusia;
4. Nota kesepahaman mengenai kerja sama antara Sekretariat Kabinet Republik Indonesia dengan Ministry of Government Legislation Korea Selatan;
5. Nota kesepahaman mengenai kerja sama di bidang keamanan maritim;
6. Nota kesepahaman mengenai kerja sama di bidang aktivitas yang berkaitan dengan industri 4.0.

Turut hadir dalam pertemuan bilateral tersebut ialah Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Syafruddin, Kepala BKPM Thomas Lembong, Kepala Bekraf Triawan Munaf, serta Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi.


Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong  optimistis kerja sama dan investasi Korsel pada sektor industri utama dan otomotif akan terus meningkat. Diharapkan, kerja sama sektor otomotif kedua negara dapat mendukung masterplan industri otomotif di Indonesia dan menumbuhkan industri komponen dan supply chain-nya. 

"Yang paling penting adalah meyakinkan investor bahwa Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk berinvestasi. Kebanyakan negara yang ekonominya sedang terpuruk, karena tidak bisa menjaga sentimen pasar atau pelaku usaha," terang dia.

Kunjungan Jokowi dilakukan melalui kegiatan Business Forum "Indonesia-Korea Business and Investment Forum 2018: Enhancing Industrial Cooperation. Berikut ini beberapa kesepakatan bisnis yang dihasilkan Jokowi dalam kunjungannya.

Daftar Nota Kesepahaman B2B yang ditandatangani:
Pengembangan PLTA Teunom 2 dan 3 di Aceh senilai US$800 juta
Pengembangan pabrik kimia (VCM dan PVC) di Merak, Banten, senilai US$200 juta
Pengembangan pabrik mesin diesel senilai US$185 juta
Pengembangan properti mixed-use MNC Lido City di Bogor, Jawa Barat, senilai US$150 juta
Pembangunan industri kosmetik di Karawang, Jawa Barat, senilai US$20 juta
Pengembangan PLTA Pongkeru 50 megawatt (MW) di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, senilai US$300 juta
Pengembangan PLTA Peusangan 4 di Bireun, Aceh, senilai US$430 juta
Pengembangan PLTA Samarkilang 77 MW di Bener Meriah, Aceh, senilai US$300 juta
Pengembangan Transit Oriented Development (TOD) di Jakarta
Pengembangan property City Gate 88 di Jakarta senilai US$70 juta
Pengembangan properti Vasanta Innopark di Bekasi, Jawa Barat, senilai US$300 juta
Kerja sama strategis di bidang Intelligent Transportation System (ITS)
Kerja sama strategis di bidang pengembangan ekosistem start-up
Engineering/Procurement/Constructions of Jawa 9&10 (2x1.000 MW) Coal Fired Steam Power Plant Project US$3 miliar
Kerja sama strategis di bidang pengembangan pusat teknologi alat-alat permesinan di Bandung, Jawa Barat

Daftar Komitmen Investasi yang diumumkan:
Industri kabel listrik oleh LS Cable & System - PT Artha Metal Sinergi di Karawang, Jawa Barat, senilai US$50 juta
Industri alas kaki oleh Parkland di Pati, Jawa Tengah, senilai US$75 juta
Industri tekstil dan garmen oleh Sae-A Trading di Tegal, Jawa Tengah, senilai US$36 juta
Industri alas kaki oleh Taekwang Industrial di Subang dan Bandung, Jawa Barat, senilai US$100 juta
Industri manufaktur turbin dan boiler oleh World Power Tech - PT NW Industries di Bekasi, Jawa Barat, senilai US$85 juta
Jasa pembiayaan untuk modal ventura oleh Intervest - Kejora Ventures di Jakarta senilai US$100 juta.

Tidak ada komentar