Breaking News

Hasil Survei LSI Denny JA: PDIP dan Gerindra Bersaing, PKS dan PAN Terancam Tak Lolos


JAKARTA - Pertarungan antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto di Pilpres 2019 diprediksikan bakal mendongkrak elektabilitas partai pengusung utama masing-masing, yakni PDIP dan Partai Gerindra. Sementara dua partai koalisi pendukung Prabowo-Sandi, yakni PKS dan PAN, terancam tak lolos ke Senayan.

Prediksi itu diungkap Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA setelah melakukan survei pada Agustus lalu. Dalam survei ini, LSI menggunakan metode multistage random sampling, dan wawancara tatap muka model kuesioner. Adapun dalam pengumpulan data dilakukan pada 12-19 Agustus 2018.

“Dari survei kami, PDIP yang berasosiasi dengan Jokowi akan mendapatkan unsur elektoral dari pemilih Jokowi. Artinya, yang memilih Jokowi lebih besar memilih PDIP. Begitupun dengan partai-partai pengusung Prabowo, mereka yang memilih Prabowo–Sandi lebih besar kemungkinannya memilih Gerindra dibandingkan dengan partai lain karena faktor asosiasi,” ubgkap Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby di Jakarta, Rabu (12/9/2018).

 Adjie Alfaraby menuturkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi semacam itu bisa terjadi. Yang pertama, penyelenggaraan pemilu legislatif (pileg) dan pilpres secara serentak menimbulkan cable effect, yaitu menguatnya persepsi masyarakat terhadap partai-partai yang memiliki asosiai paling kuat terhadap capres.

Dia menuturkan, hal berbeda bakal dialami Partai Golkar. Pada Pemilu 2019, elektabilitas parpol berlambang pohon beringin itu diprediksi menurun secara signifikan karena tidak menempatkan kader mereka sebagai calon presiden maupun calon presiden.

“Problem yang dialami Partai Golkar, karena tidak ada capres dan cawares, juga faktor sentimen negatif akibat dari kasus-kasus internal partai. Misalnya, kasus yang menjerat mantan ketua umum Setya Novanto, kemudian ada lagi yang terakhir kasus dugaan suap PLTU Riau-1. Itu semua menambah sentimen negatif publik terhadap Partai Golkar,” ucap Adjie.

Dia berpendapat, jika Golkar tidak mengimbangi sentimen negatif itu dengan isu-isu yang positif, bukan tidak mungkin suara partai pimpinan Airlangga Hartarto itu akan terus tergerus. Selain itu, kata Adjie, faktor leadership atau kepemimpinan di internal juga dapat memengaruhi perolehan suara Golkar di Pemilu 2019.

Jika PDIP dan Gerindra mempunyai sosok ketua umum sebagai tokoh yang punya modal kepemimpinan kuat, Golkar tidak demikian. “Sosok leadership ini penting karena dapat meminimalisasi konflik-konflik di internal partai, sehingga partai pun dapat fokus menghadapi pemilu. Di PDIP ada Megawati yang begitu kuat, kemudian di Gerindra ada Prabowo Subianto,” ujar Adjie.

Hasil Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA


Dari tabel hasil survei LSI Denny JA, peringkat teratas PDIP dengan raihan 24,8 persen, kemudian disusul Partai Gerindra 13,1 persen. Sementara Partai Golkar berada di ambang batas antara parta papan tengah dan partai papan atas.

Sehingga dalam Pemilu 2019, diprediksi ada tiga partai yang akan bersaing di papan tengah, yakni Partai Golkar 11,3 persen, Partai Kebangkitan Bangsa 6,7 persen, dan Partai Demokrat 5,2 persen.


Tiga partai bersaing di papan tengah

Lima Partai Ini Terancam Tak Lolos
Sebanyak lima partai peserta pemilu terancam gagal lolos ke parlemen di pemilu tahun depan karena mendapatkan elektabilitas tak lebih dari empat persen. Kelima partai itu adalah Partai Keadilan Sejahtera (3,9%), Partai Persatuan Pembangunan (3,2%), Partai Nasdem (2,2%), Partai Perindo (1,7%) dan Partai Amanat Nasional (1,4%). "Dengan margin of error 2,9 persen, partai di papan tengah bawah ini mungkin lolos mungkin tidak lolos," kata Adjie Alfaraby.

Lima partai bersaing di papan bawah

Enam Partai Butuh Keajaiban
Sementara parpol dengan elektabilitas terendah ada enam partai, yakni Partai Hanura, Partai Bulan Bintang, Partai Solidaritas Indonesia, Partai Berkarya, Partai Garuda, dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia. Enam partai itu dipilih oleh 1.200 responden tak lebih dari satu persen.

Menurut Adjie, kalau tak ada gebrakan, partai yang diklasifikasikan papan bawah kemungkinan besar sulit mengejar ambang batas parlemen atau parliamentary treshold, seperti yang ditetapkan undang-undang sebanyak empat persen.

Partai yang butuh keajaiban untuk lolos ET

Tidak ada komentar