Breaking News

Kadin Kelautan dan Perikanan Usulkan 5 Rekomendasi untuk Perkuat Rupiah


JAKARTA - Turunnya peringkat ekspor perikanan disebabkan karena anjloknya hasil produksi komoditas2 tuna, cakalang, kepiting hidup hasil budidaya, kerapu hidup hasil budidaya, udang hasil tangkapan di Arafura dan tilapia. Sedang anjloknya produksi perikanan disebabkan oleh berbagai aturan pemerintah. Karena itu, Kadin Kelautan dan Perikanan mengusulkan 5 rekomendasi kepada pemerintah.

"Jika pemerintah melakukan de-regulasi, nilai ekspor perikanan bisa kembali masuk dalam daftar 10 penyumbang devisa terbesar di Indonesia, dengan nilai sebesar US$ 5.8 milyar, menduduki peringkat ke 9, " kata Ketua Dewan Penasehat Kadin Kelautan dan Perikanan, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS, dalam keterangan pers. Minggu.

Selain melakukan deregulasi, lanjut Rokhmin Dahuri, KADIN Kelautan dan Perikanan juga memberi masukan kepada pemerintah melakukan empat langkah lainnya, yaitu; Mempercepat proses perijinan dan perpanjangan perijinan; Mengembangkan aquaculture/perikanan budidaya yang potensi ekonominya US$ 240 milyar per tahun; Menerapkan teknologi modern untuk tambak garam sehingga produktifitasnya naik hingga 400% dan kualitasnya.

Jika kelima langkah yang disarankan KADIN KP ini dijalankan, maka dalam waktu 6 hingga 24 bulan sektor perikanan Indonesia bisa menghasilkan devisa sekitar US$ 5.8 milyar, dan dalam waktu 5 tahun bisa meningkat hingga US$ 52 milyar, serta dalam waktu satu hingga dua dekade bisa meningkat hingga US$ 252 milyar per tahun. Devisa sebesar ini ekivalen dengan 12 kali devisa dari sawit, atau sekitar 164% dari APBN RI tahun 2018.

Jika target devisa ini tercapai bersamaan dengan meningkatnya devisa dari 10 sektor andalan lainnya maka nilai tukar Rupiah kita bisa lebih kuat dari Singapura, cadangan devisa kita bisa melampaui Cina, 40 puluh juta lapangan kerja baru bisa dibuka, sehingga kemiskinan menurun drastis, dan daya beli masyarakat meningkat belasan kali lipat.

Disebutkan, sejak proklamasi kemerdekaan hingga hari ini, nilai tukar Rupiah sudah merosot puluhan ribu %. Nilai tukar Rupiah kita merosot terus dan akan terus merosot, karena cadangan devisa kita tidak pernah cukup kuat untuk menopang mata uang kita. Saat ini sawit dan produk oleochemical adalah penghasil devisa terbesar, setelah itu pariwisata, tekstil dan garmen.

Berikut peringkat 10 besar penyumbang devisa terbesar di Indonesia berdasar data tahun 2017 (data didapat dari BPS dan Kementerian Perindustrian).
1. Devisa Hasil Ekspor Kelapa Sawit – US$ 22.77 milyar
2. Jasa Pariwisata (Turis Asing) – US$ 18.09
3. Eskpor Tekstil – US$ 15.14
4. Ekspor Migas – US$ 16.19
5. Ekspor Batubara – US$ 14.28
6. Jasa TKI – US$ 13.33
7. Ekspor Elektronik – US$ 7.62
8. Ekspor Hasil Kayu Hutan – US$ 6.67
9. Ekspor Karet – US$ 6.19
10. Ekspor Sepatu dan Sandal – US$ 5.71

Pada tahun 2014 ekspor produk perikanan Indonesia berada pada peringkat ke 6 dari 10 besar penghasil devisa. Sejak tahun 2015 hingga 2018 ekspor perikanan tidak masuk lagi pada 10 besar komoditas penghasil devisa Indonesia.

Turunnya peringkat ekspor perikanan disebabkan karena anjloknya hasil produksi komoditas2 tuna, cakalang, kepiting hidup hasil budidaya, kerapu hidup hasil budidaya, udang hasil tangkapan di Arafura dan tilapia.  Anjloknya produksi perikanan disebabkan oleh berbagai aturan pemerintah, cq KKP, yang kontra-produktif, seperti moratorium perpanjangan ijin kapal nelayan yang diimpor secara legal, larangan trans-shipment, larangan pengiriman kepiting ukuran tertentu dan betina, hambatan akses kapal buyer ikan kerapu hidup hasil budidaya, moratorium dan penutupan KJA ikan nila di danau Toba, waduk Cirata dll.

Tidak ada komentar