Breaking News

KPU Coret OSO dari DCT DPD, Peneliti Formappi Gembira


JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) akhirnya mencoret dua nama caleg Dewan Perwakilan Daerah (DPD) hingga tak masuk dalam daftar caleg tetap.  Kedua nama tersebut yakni Oesman Sapta Odang (OSO) dan Victor Juventus G May. Langkah tegas Komisi Pemilihan Umum (KPU) ini disambut gembira oleh Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) karena dinilai akan mengembalikan DPD ke khitahnya sebagai lembaga perwakilan daerah.

Oesman Sapta diketahui mendaftar sebagai calon anggota DPD dari Provinsi Kalimantan Barat. Sementara itu, Victor maju sebagai calon anggota DPD Provinsi Papua Barat. Komisioner KPU Ilham Saputra mengatakan, dicoretnya kedua nama calon anggota DPD tersebut lantaran keduanya masih menjadi pengurus parpol.

Peneliti senior Formappi, Lucius Karus, mengatakan keberanian KPU untuk menghapus nama Oso dari Daftar Calon Tetap Legislatif patut diapresiasi. Selain karena sudah sesuai dengan Keputusan MK No. 30/PUU- XVI/2018 bertanggal 23 Juli 2018 lalu.

Dijelaskan Lucius, dengan pencoretan Oso dari daftar calon anggota DPD, bagian dari kepastian soal identitas DPD yang berbeda dengan DPR bisa terwujud.

"Sudah cukup lama polemik terkait DPD berlangsung. Saya kira satu hal yang selalu saja tak berubah adalah, pandangan bahwa sejak awal DPD dibentuk untuk menjadi saluran perwakilan daerah," kata Lucius seperti dilansir VIVA, Jumat 21 September 2018.

"Keberanian KPU mencoret caleg DPD yang merupakan pengurus parpol ada harapan positif ke depan. DPD akan kembali ke khitahnya sebagai lembaga perwakilan daerah," tambahnya.

Lucius menuturkan, itulah alasan sesungguhnya kenapa keputusan KPU mencoret caleg DPD dari pengurus parpol itu penting didukung. Bukan semua alasan pragmatis soal nasib para calon anggota DPD yang dicoret.

"Semua demi tegaknya marwah lembaga DPD yang sejak terbentuk sampai saat ini belum juga berhasil mengaktualisasikan dirinya sebagai lembaga berpengaruh yang sejajar dengan DPD," tuturnya.

Ditegaskan Lucius, dukungan Formappi bukan karena tidak suka atau tak sepaham terhadap Oso. Hanya saja publik punya kepentingan lebih besar.

"Bukan karena Formappi tak suka dengan Oso. Hanya saja publik punya satu-satunya kepentingan yang jauh lebih besar dari sekadar mendukung dia atau tidak. Agar lembaga DPD tidak dikerdilkan oleh nafsu kekuasaan segelintir elitnya," kata dia.

Tidak ada komentar