Breaking News

Kasus Hoax Ratna Sarumpaet Timbulkan 'Likuifaksi' Partai Pendukung Prabowo-Sandi


JAKARTA - Hoaks yang dilakukan Ratna Sarumpaet menyebabkan "likuifaksi" terhadap partai-partai pendukung walaupun masa kampanye baru memasuki tahap awal, menurut tim relawan kampanye nasional Joko Widodo-Ma`ruf Amin.

Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma`ruf Amin, Maman Imanulhaq mengatakan hal itu saat ditanya soal dampak kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet menyusul dilaporkannya aktivis itu ke polisi oleh Partai Gerindra sendiri.

Disamakan dengan likuifaksi atau lumpur yang menghisap
Maman Imanulhaq menyebut kebohongan yang dilakukan Ratna menurunkan drajat demokrasi dan menyamakan dampaknya dengan apa yang terjadi di Petobo dan Balaroa, Palu menyusul gempa besar yang melanda 28 September lalu. Di dua kawasan di kota Palu itu diperkirakan BNPB terdapat sekitar 5.000 orang terkubur walaupun angka ini belum diverifikasi.

"Politik demokrasi ala Ratna betul-betul menurunkan drajat nilai demokrasi itu sendiri yang menghargai akal sehat dan kejujuran. Korban bukan hanya Ratna," kata Maman seperti dilansir BBC..

"Kalau dikaitkan dengan peristiwa di Palu dan Sigi, kasus hoaks Ratna menjadi likuifaksi atau lumpur yang menghisap dan menjadikan semacam (tempat terbunuhnya) bagi seluruh kader atau siapapun yang terjebak kepada lingkaran hoaksnya Ratna Sarumpaet. Ini pelajaran bagi kita bahwa satu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan lain dan itu akan menghancurkan," tambahnya.

Dodi Ambardi, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, LSI, mengatakan pihaknya belum melakukan survei terkait dampak hoaks Ratna Sarumpaet dan elektabilitas pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno untuk pemilihan presiden pada 17 April tahun depan.

Namun dalam survei secara umum yang pernah dilakukan sebelumnya, kredibilitas dan kejujuran merupakan elemen yang lebih penting bagi calon pemilih, menurut Dodi.

Ia mengatakan apa yang terjadi "menggerogoti kredibilitas yang selama ini dibangun (kubu Prabowo)."

Strategi menyelamatkan muka
"Kredibilitas itu punya dampak di Indonesia kalau dilihat kecenderungan banyak pemilih yang menghargai sifat jujur, integritas, kejujuran dianggap lebih tinggi ketimbang kompetensi bagi pemilih."

"Kasus ini berada pada titik itu, bahwa tim Prabowo awalnya ingin memanfaatkan sebagai isu publik dan secara tak langsung mengkritik bahwa tim Jokowi tak bisa menghargai pengkritik. Saya kira (kasus ini) akan menjadi perhatian besar, karena bertolak belakang dengan apa yang dihargai oleh publik yaitu kejujuran," kata Dodi.

Hamdi Muluk, pengamat psikologi politik dari Universitas Indonesia mengatakan apa yang dilakukan kubu Prabowo adalah "mencari strategi menyelamatkan muka", dan salah satu cara yang masuk akal adalah menempatkan diri sebagai korban dari kebohongan Ratna dan berbalik."

"Kalau tadinya mau melindungi Ratna dari penganiyaan dan mengutuk rezim yang menjadi lawan politik mereka sebagai pihak yang "jahat", sekarang berbalik menuduh Ratna membohongi mereka, dan melaporkannya ke polisi," kata Hamdi.

"Kalau memang dari awal Prabowo-Sandi yakin Ratna Sarumpaet korban penganiyaan, mengapa tidak membawa dulu ke polisi? Lakukan visum et repertum...artinya dorong penyelidikan setuntasnya, supaya tidak terkena hoaks baru bikin konperensi pers ke publik."

"Pasca kejadian pengakuan Ratna, sekonyong-konyong narasi atau framing politik Ratna Sarumpaet dianiyaya oleh rezim runtuh seruntuh-runtuhnya di mata publik. Matahan memperoleh public trust (kepercayaan masyarakat) dan crebility (kredibilitas) itu tidak mudah. Bahkwan sesungguhnya hakekat kampanye adalah memenangkan kepercayaan masyarakat tadi," tambah Hamdi.

Hamdi mengatakan perlu ada survei untuk melihat dampak kebohongan Ratna terhadap elektabilitas Prabowo-Sandi namun ia memperkirakan turun.

Sementara itu, Aditya Perdana adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia mengatakan kasus Ratna Sarumpaet ini akan menjadi pelajaran secara internal untuk lebih berhati-hati.

"Di timnya jelas punya dampak bahwa (mereka) harus hati-hati mengolah isu biar bisa menguntungkan buat mereka dan malah bukan sebaliknya," kata Aditya.

Tidak ada komentar