Breaking News

Kurs Rupiah Ditutup Menguat ke Rp15.200 per Dolar AS


JAKARTA - Kurs rupiah bangkit melawan dolar Amerika Serikat (AS) dalam penutupan perdagangan di pasar spot Rabu (10/10/2018) sore.

Data Bloomberg menunjukkan, rupiah berada di level Rp15.200 per dolar AS, menguat 38 poin atau 0,25 persen dibandingkan posisi kemarin di Rp15.238 per dolar AS.

Rupiah langsung dibuka melemah pada sesi pagi di Rp15.213 per dolar AS dan bergerak dalam rentang Rp15.197-15.227 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan hari ini. Adapun sejak awal tahun, rupiah sudah melemah 12,14 persen terhadap greenback.

Data Reuters juga menunjukkan, rupiah menguat 80 poin ke Rp15.194 per dolar AS dari posisi kemarin di Rp15.274 per dolar AS. Sementara sepanjang sesi perdagangan, mata uang Garuda bergerak dalam rentang Rp15.186.-15.234 per dolar AS.

Berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia Rabu 10 Oktober 2018, rupiah terapresiasi 18 poin menjadi Rp15.215 per dolar AS dari posisi kemarin di Rp15.233 per dolar AS.

"Kurs rupiah menguat bergerak di bawah level Rp15.200 per dolar AS, menunjukan stabilitas ekonomi Indonesia relatif masih terjaga," ujar Kepala riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra seperti dilansir iNews.id.

Menurut dia, penguatan rupiah itu juga seiring dengan adanya pernyataan dari Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde yang menilai kondisi ekonomi Indonesia dalam keadaan baik.

"Pernyataan (Lagarde) itu memberi kepercayaan kepada pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi nasional dan berdampak pada penguatan rupiah," katanya.

Dia menambahkan penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh faktor teknikal mengingat dalam beberapa hari ini cenderung mengalami depresiasi terhadap dolar AS.

"Sebagian pelaku pasar mengambil momentum untuk melakukan aksi ambil untung," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, posisi dolar AS juga sedang mengalami tekanan terhadap sejumlah mata uag dunia menyusul imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang menurun.

"Namun, pelemahan dolar AS relatif masih terbatas karena permintaan masih ada seiring masih terbukanya kenaikan suku bunga pada tahun ini," katanya.

Tidak ada komentar