Breaking News

Kapitra Ampera: Aksi Bela Tauhid 211 Berpotensi Pecah Umat Islam


JAKARTA - Rencana Aksi Bela Tauhid 211 yang akan digelar Alumni 212 dan sejumlah ormas dibawah komando Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) pada 2 November 2018 ini mendapat tanggapan dari Kapitra Ampera, Aktivis 212 yang juga pengacara Habib Rizieq Syihab.

Kapitra Ampera menganggap Aksi Bela Tauhid 211 tidak perlu dilanjutkan, karena berpotensi memecah belah umat Islam. "Saya pikir Itu sudah tidak perlu. Karena itu justru mengganggu dan menjadikan peluang dan jalan untuk pecah belahnya umat Islam," ujar Kapitra seperti dilansir netralnews.com, Kamis (1/11/2018).

Aksi Bela Tauhid 2 November 2018 ini merupakan aksi kedua. Aksi Bela Tauhid pertama telah digelar di depan Kantor Menko Polhukam, pada Jumat (26/10/2018). Seperti diketahui, kedua aksi itu digelar terkait pembakaran bendera pada peringatan Hari Santri Nasional di Limbangan, Garut, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Hanya saja, tidak semua aktivis 212 ikut mendukung Aksi Bela Tauhid, seperti yang dipaparkan Kapitra Ampera. "Aksi ini tidak boleh. Saya minta aksi ini dibatalkan. Aksi Bela Tauhid itu harus dibatalkan karena potensi memecah belah kesatuan umat Islam," tegas Kapitra.

Selain berpotensi memecah belah umat Islam, Kapitra Ampera menyebut, aksi-aksi demikian bukan bagian dari cara menyelesaikan masalah seperti yang diajarkan dalam Islam.

"Karena cara umat Islam menyelesaikan masalah itu dengan tabayyun, dengan musyawarah, dengan konfirmasi, dengan kerendahan hati, dengan maaf," ucap Kapitra.

"Tapi bukan dengan demonstrasi, itu membuat semua orang diantara umat Islam bisa jadi lawan, dan itu tidak benarkan oleh ajaran Islam itu sendiri berdasarkan Surat Al Hujurat," tandas Kapitra Ampera.

Kapitra juga mensinyalir Aksi Bela Tauhid 211  merupakan kampanye terselubung untuk mendukung salah satu paslon capres-cawapres yang berlaga di Pilpres 2019. Sebab, berkaca dari Aksi Bela Tauhid pertama pada Jumat (26/10/2018), dimana dalam aksi itu, ada seruan '2019 Ganti Presiden.'

"Aksi Bela Tauhid bajunya, tapi sebenarnya bungkusannya untuk membela paslon, dan itu haram hukumnya. Sudah kelihatan kemarin (di Aksi Bela Tauhid pertama) itu kampanye terselubung," kata Kapitra kepada NNC, Kamis (1/11/2018).

Karenanya, mantan pengacara Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab ini mengimbau supaya Aksi itu dihentikan. Ia juga memperingatkan pihak-pihak yang menggagas Aksi 211 untuk tidak memanfaatkan umat Islam demi ambisi kekuasaan.

Tidak ada komentar